Nadea menambahkan, Sumpah Pemuda harus dimaknai sebagai panggilan untuk bergerak dan berkolaborasi, bukan sekadar diingat setiap 28 Oktober.
“Semangat Sumpah Pemuda jangan berhenti pada slogan dan upacara, tetapi terus tumbuh lewat kolaborasi, inovasi, dan aksi nyata dari generasi muda HST demi daerah yang lebih maju dan berdaya saing,” tutupnya.
Dengan langkah-langkah konkret ini, pemuda HST membuktikan bahwa mereka bukan hanya pewaris sejarah, tapi juga penggerak perubahan bagi masa depan Banua dan Indonesia.(wartabanjar.com/Adew)
editor: nur muhammad
