WARTABANJAR.COM, BANJARMASIN- Deddy Corbuzier mengundang ulama besar Yaman, Habib Umar bin Hafidz di podcast-nya, Close The Door, tayang Senin (20/10/2025).
Di kesempatan itu, Deddy Corbuzier bertanya tentang anak-anak Palestina.
“Kalau Tuhan memang ada, kenapa anak-anak kecil di Palestina harus mati seperti itu?”
Bukan sekadar wawancara biasa, dialog tersebut menjadi pertemuan antara akal dan hati, antara rasionalitas modern dan kebijaksanaan spiritual.
Di depan sang habib, Deddy mengaku tak bisa tidur sebelum pertemuan itu berlangsung, merasa gugup sekaligus terharu.
“Biasanya saya bicara dengan politisi, ilmuwan, atau selebriti. Tapi kali ini, saya bicara dengan orang yang membahas hati untuk mengubah dunia,” ujarnya.
Menanggapi pertanyaan itu, Habib Umar bin Hafidz menjawab dengan perumpamaan indah dan logika spiritual yang dalam.
“Bayangkan seseorang tertidur di rumahnya, lalu ketika bangun, dia sudah berada di sebuah kapal besar di tengah laut. Orang yang berakal pasti akan bertanya: siapa yang membawaku ke sini, dari mana kapal ini berangkat, dan ke mana tujuannya?”
Habib Umar menjelaskan, kehidupan manusia di dunia ibarat berada di atas kapal kehidupan, semua sedang berlayar menuju tempat yang telah Allah tentukan.
Pertanyaan tentang “mengapa ada penderitaan,” sambung Habib Umar, baru bisa dimengerti jika manusia mau menggunakan akalnya untuk mengenal Sang Pencipta dan memahami arah perjalanannya.
“Manusia yang tidak memfungsikan akalnya hanya ikut arus. Melihat orang makan, ia ikut makan. Melihat orang bekerja, ia ikut bekerja. Tapi tidak tahu untuk apa dia hidup dan ke mana dia akan kembali,” jelas Habib Umar lagi.







