Tragedi Ponpes Al-Khoziny Sidoarjo: 15 Santri Ditemukan Tewas, 5 Teridentifikasi, Proses Evakuasi Masih Berlanjut!

89 sudah pulang

1 dirujuk ke RS di Mojokerto

Masih dalam pencarian: 48 orang

Kendala Berat Identifikasi Jenazah

Kepala Bidang DVI Pusdokkes Polri, Kombes Pol dr Wahyu Hidajati, mengungkap empat tantangan utama dalam proses identifikasi jenazah:

Sidik jari rusak dan minim data biometrik
Banyak jenazah mengalami kerusakan pada bagian jari, menyulitkan pencocokan data melalui sistem MAMBIS. Sebagian besar korban juga belum memiliki KTP.

Tidak ada ciri khas pada gigi
Rekam gigi sulit digunakan karena kondisi korban yang masih anak-anak dan minim data ante-mortem dari keluarga.

Seragam tanpa identitas
Saat kejadian, para santri mengenakan baju koko putih dan sarung tanpa nama atau label identitas.

Minim keterangan fisik dari keluarga
Banyak keluarga tidak mampu memberikan informasi pembeda seperti tanda lahir atau bekas luka.

Karena berbagai kendala tersebut, tes DNA menjadi opsi terakhir. Namun, proses ini bisa memakan waktu hingga dua minggu, terutama jika jaringan tubuh korban sudah mengalami kerusakan.

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, yang meninjau langsung Posko DVI di RS Bhayangkara Polda Jatim, memastikan seluruh proses identifikasi dilakukan secara profesional dan penuh kehati-hatian.

“Kami pastikan penanganan dilakukan sesuai prosedur. Ini bukan sekadar angka korban, tapi nyawa dan keluarga yang menunggu kepastian,” tegas Khofifah.

Pihak berwenang terus berupaya maksimal agar seluruh korban dapat segera ditemukan dan diidentifikasi. Sementara itu, doa dan dukungan moral terus mengalir dari berbagai kalangan untuk keluarga besar Ponpes Al-Khoziny.(Wartabanjar.com/Berbagai Sumber)

editor: nur muhammad