WARTABANJAR.COM, BARABAI – Eco-enzim kini makin dikenal sebagai cairan serbaguna yang bermanfaat untuk kesehatan, kebersihan rumah tangga, hingga menjaga kelestarian lingkungan.

Salah satu penggiat eco-enzim di Hulu Sungai Tengah (HST), Rezqa Maulida, membagikan cara mudah membuatnya agar bisa dipraktikkan masyarakat.

Menurut Rezqa, eco-enzim dibuat dari bahan sederhana berupa limbah sayur dan buah-buahan, gula merah, serta air. Proses pembuatannya membutuhkan waktu fermentasi selama 90 hari atau sekitar 3 bulan.

Takaran bahan untuk membuat eco-enzim:
• 1 bagian gula merah (misalnya 1 kg)
• 3 bagian limbah sayuran/buah segar (3 kg)
• 10 bagian air (10 liter)

“Kalau mau bikin 1 liter air, berarti cukup 0,1 kg gula merah dan 0,3 kg sayuran atau buah segar. Sangat sederhana,” jelas Rezqa.

Namun, tidak semua bahan bisa digunakan. Beberapa buah tidak dianjurkan seperti nangka atau tiwadak karena terlalu banyak getah, juga sayuran beraroma tajam seperti bawang, kol, dan cabai.

Begitu pula limbah yang sudah busuk, tulang, daging, gorengan, serta biji-bijian keras.

Sebaliknya, buah dengan aroma segar seperti jeruk, nanas (tanpa bagian kepala), stroberi, atau pandan bisa menambah wangi eco-enzim. Bahkan bisa ditambahkan daun serai atau daun mint untuk menghasilkan aroma herbal.

Untuk wadah, Rezqa menyarankan menggunakan plastik yang cukup kuat dan tidak rapat penuh, karena fermentasi menghasilkan gas.

“Jangan pakai wadah kaca atau aluminium. Kalau botol plastik, pastikan ada ruang udara agar tidak meledak,” katanya.

Setelah tiga bulan fermentasi, cairan eco-enzim siap dipanen dan bisa digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari membersihkan rumah, mencuci pakaian dan piring, hingga perawatan tubuh dengan cara dicampur.

“Eco-enzim ini bukan untuk diminum, tapi bisa dipakai hampir untuk semua hal. Yang jelas, lebih hemat, sehat, dan ramah lingkungan,” pungkas Rezqa. (wartabanjar.com/Adew)

Editor Restu