Diduga Rudal Melintas di Masjid Nabawi Buat Jemaah Panik
WARTABANJAR.COM, ARAB SAUDI - Suara ledakan keras terdengar di dekat Masjid Nabawi, Madinah, Kamis (11/9/2025) dini hari.
Video yang beredar luas di media sosial memperlihatkan cahaya melesat di langit dengan dentuman keras.
Sebagian warganet menduga itu rudal yang dicegat sistem pertahanan Saudi. Namun otoritas Al Haramain mengimbau masyarakat tidak berspekulasi.
Baca Juga
Peringatan Dini Banjir Rob di Muara Sungai Barito Mulai Besok
Peristiwa sekitar pukul 05.43 waktu setempat itu memicu kepanikan jemaah salat subuh.
“Kami mengetahui adanya insiden yang terjadi di dekat Masjid Nabawi sekitar pukul 05.43 kemarin pagi, di mana terdengar suara ledakan dan beberapa visual terekam. Kami meminta semua pihak menahan diri dari spekulasi dan menunggu informasi resmi dari sumber berwenang,” tulis akun Inside the Haramain di X.
Meski belum ada keterangan resmi, spekulasi langsung bermunculan. Sejumlah warganet menduga rudal tersebut diluncurkan dari Yaman dengan target Israel, namun melintas di wilayah udara Arab Saudi.
“Mungkin sebuah misil diluncurkan dari Yaman ke Israel, dan Arab Saudi mencegatnya,” komentar salah satu netizen.
Sehari sebelumnya, militer Israel menyatakan telah mencegat sebuah rudal yang ditembakkan dari Yaman. Klaim itu muncul setelah Israel melancarkan serangan udara ke ibu kota Yaman, Sanaa, dan Provinsi Jawf, yang menewaskan sedikitnya 46 orang dan melukai lebih dari 160 lainnya.
“Menyusul sirene yang berbunyi di beberapa wilayah Israel, sebuah rudal dari Yaman berhasil dicegat,” kata militer Israel melalui Telegram, dikutip AFP.
Kelompok Houthi menyebut serangan Israel menargetkan kompleks militer mereka. Menurut juru bicara Anees Alasbahi, korban di Sanaa mencapai 28 orang tewas dan 113 luka-luka, sementara di Jawf terdapat tujuh tewas dan 18 luka-luka.
Serangan itu terjadi tak lama setelah Perdana Menteri Houthi Ahmed Ghaleb Nasser al-Rahawi bersama sembilan menteri dan dua pejabat kabinet tewas dalam sebuah rapat di Sanaa bulan lalu.
Peristiwa tersebut disebut sebagai serangan paling mematikan terhadap pejabat Houthi dalam hampir dua tahun konflik yang berhubungan erat dengan perang Gaza.