Fakta menariknya, keduanya memiliki pace yang hampir sama. Namun Alex berhasil menjaga efisiensi dalam menikung, sehingga lebih hemat tenaga dan lebih stabil. Marc, di sisi lain, harus terus “berjuang” melawan karakter motornya.
“Saya mencoba mengejar di tikungan kiri, tapi jumlahnya terbatas. Di sisa lima lap, saya malah buat kesalahan dan menyerah,” kata Marc.
🔄 Dua Hari, Dua Cerita
Perbedaan hasil antara sprint dan main race menunjukkan kematangan strategi Alex Marquez. Ia belajar dari kesalahan, mengevaluasi, dan langsung menerapkan perbaikan hanya dalam waktu semalam. Hal itulah yang membuat kemenangan di Catalunya terasa istimewa.
Kemenangan ini juga menunjukkan bahwa Alex kini bukan sekadar “adik Marc”, tapi penantang serius di papan atas MotoGP 2025. (Wartabanjar.com/berbagai sumber)
Editor: Andi Akbar

