Ketika ditanya soal keluhan petani, Supian Sauri mengatakan, “Untuk selama ini kalau berhasil ini tidak ada keluhan, biasanya yang ada keluhan tidak berhasil, masalah penyakit, masalah banjir itu yang dikeluhkan masyarakat.”
Tanggapan positif juga datang dari salah satu petani, Marhani, yang tinggal di RT 1. Ia membenarkan bahwa harga padi saat ini lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya.
“Untuk yang basah di daerah kami di sini 68 lawan 70 (Rp 6.800 – Rp 7.000) pasarannya, kalau yang kering 80 (Rp 8.000). Harganya bagus dari pada sebelumnya,” kata Marhani.
Marhani menambahkan bahwa pembeli padi di desanya kebanyakan berasal dari daerah setempat, dan belum ada intervensi dari Bulog.
“Bulog belum masuk, yang membeli dari daerah sini juga. Cuma harga standar pemerintah. Bulog di situ ada juga sama aja jua harganya,” tambahnya.
Meskipun demikian, petani seperti Marhani masih berjuang melawan hama yang merusak tanaman. Marhani, yang menggarap sekitar 2 hektar sawah, menuturkan bahwa ia hanya bisa menanam sekali dalam setahun karena sulitnya mengatasi hama, terutama tikus dan burung.
“Kada kawa nanggulangi hama. Hamannya tikus dan burung,” keluh Marhani. Ia juga sempat mencoba menanam dua kali pada tahun sebelumnya, namun hasilnya tidak maksimal.
“Yang tahun tadi (kemarin) kita coba juga 2 kali tapi kada kawa banyak,” pungkasnya. (Wartabanjar.com/Gazali)
Editor Restu







