WARTABANJAR.COM, JAKARTA – Kejuaraan Dunia BWF 2025 di Paris menjadi panggung bersejarah bagi tunggal putri Indonesia. Bukan karena pulang tanpa gelar, melainkan lantaran Putri Kusuma Wardani sukses memutus penantian panjang satu dekade dengan membawa pulang medali perunggu.
PBSI mengalokasikan anggaran besar untuk program pembinaan atlet jelang Kejuaraan Dunia, termasuk pengiriman atlet ke turnamen level super series dengan biaya mencapai Rp45 miliar dari APBN 2024. Namun, dukungan dana itu sempat menuai sorotan karena sebagian program latihan dititipkan lewat kerja sama pihak ketiga yang dianggap tidak sepenuhnya sesuai mekanisme Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2019 tentang pengelolaan keuangan negara.
Pengamat olahraga sekaligus mantan pelatih nasional, Icuk Sugiarto, menilai capaian Putri merupakan sinyal positif sekaligus alarm perbaikan sistem. “Medali ini pencapaian berharga, tapi jangan terlena. Kalau pola pembinaan tidak konsisten, kita bisa kembali kehilangan generasi emas,” ucap Icuk dalam wawancara di Jakarta, Sabtu (30/8/2025).
Menanggapi kritik tersebut, Ketua Harian PBSI, Alex Tirta, menyebut penggunaan dana sudah melalui mekanisme audit. “Kami pastikan setiap rupiah yang digunakan sesuai aturan. Fokus kami adalah memberikan program terbaik agar atlet siap bersaing di level dunia,” ungkapnya.
Capaian Putri KW membuka asa baru sektor tunggal putri yang selama ini terpuruk. Masyarakat kini menantikan langkah lanjutan PBSI untuk menjaga konsistensi performa Putri sekaligus melahirkan regenerasi atlet yang mampu bersaing di Olimpiade 2028. (Wartabanjar.com/berbagai sumber)







