Koordinator BEM UI, Bima, menegaskan aksi ini lahir dari kekecewaan mendalam terhadap brutalitas aparat.
“Solidaritas rakyat terciderai oleh tindakan represif aparat. Karena itu, mahasiswa tidak bisa diam,” tegasnya.
Dalam aksinya, mahasiswa mengusung lima tuntutan utama:
Menuntut Polri bertanggung jawab atas penangkapan, kekerasan, hingga pembunuhan terhadap massa aksi.
Mendesak pencopotan Kapolda Metro Jaya dan Kapolri yang dianggap membiarkan tindakan represif.
Menghukum aparat yang melakukan kekerasan, penyiksaan, hingga pembunuhan.
Membebaskan seluruh massa aksi yang ditahan.
Mendesak reformasi institusi Polri agar kembali ke tugas pokok dan wewenang.
Bima mengungkapkan sekitar 150 mahasiswa Universitas Indonesia sudah mendaftar, dan jumlahnya diperkirakan akan terus bertambah.
Sikap BEM SI: Tidak Bisa Dimaklumi!
Koordinator Pusat BEM SI Kerakyatan, Muhammad Ikram, menegaskan pihaknya juga siap turun ke jalan.
“Kami tidak bisa menerima kondisi ini. Insiden ojol yang dilindas rantis adalah tragedi yang sama sekali tidak dapat dimaklumi,” tegas Ikram.
Ia bahkan menyerukan mahasiswa seluruh Indonesia untuk ikut menuntut keadilan. Menurutnya, lokasi aksi masih dipertimbangkan antara Mako Brimob, Mabes Polri, atau Polda Metro Jaya.
Latar Belakang: Ojol Tewas Dilindas Rantis
Insiden bermula ketika sebuah video amatir viral di media sosial.
Rekaman memperlihatkan kendaraan taktis Brimob melaju kencang di tengah kerumunan, hingga melindas seorang pengemudi ojol yang berusaha menyelamatkan diri.

