Mulyadi menjelaskan, sekitar 150 warga bahu-membahu menggunakan peralatan seadanya, seperti linggis dan cangkul, untuk menggali dan memutus jalan muara kebun. Kegiatan ini dimulai setelah Magrib dan selesai sekitar pukul 21.00 Wita.
Meskipun jalan yang diputus hanya selebar tiga meter, penggalian dibuat memanjang untuk memastikan truk tidak bisa lewat, bahkan melalui bahu jalan.
“Sebelumnya sudah pernah diputus pakai alat berat, tapi truk tetap bisa lewat dengan cara turun ke bahu jalan dan meletakkan kayu sebagai jembatan,” ungkapnya.
Mulyadi menambahkan, aksi ini sudah mendapatkan restu dari pihak manajemen PTPN.
Ia juga menjamin bahwa pemutusan jalan ini tidak mengganggu aktivitas perkebunan, karena masih ada akses lain yang bisa digunakan.
Sejak jalan poros Tebing Siring diaspal oleh Pemkab Tanah Laut tahun lalu, truk-truk pengangkut batu gunung semakin sering melintas, siang maupun malam. Kondisi ini memicu kekhawatiran warga akan rusaknya infrastruktur yang selama ini mereka perjuangkan.
“Jalan ini bukan hanya akses utama warga ke Kota Pelaihari untuk belanja atau menjual hasil bumi, tapi juga jalur pelajar menuju sekolah dan kampus. Kami tidak mau jalan ini cepat rusak,” tutup Mulyadi. (Wartabanjar.com/Gazali)
Editor Restu







