Kalau di bawah 19 tahun itu masih emosional, belum matang pola pikir, dan rentan muncul masalah rumah tangga,” jelasnya.
Helfiannor mengatakan pihaknya memiliki program khusus untuk memberikan pembekalan kepada orang tua dan remaja.
“Kami punya yang namanya Bina Keluarga Remaja. Di situlah kami menyampaikan pesan-pesan kepada orang tua yang punya anak remaja tentang usia pernikahan yang ideal,” terangnya.
Ia menilai pernikahan dini menjadi salah satu pemicu tingginya angka perceraian.
“Kalau usia masih muda, perbedaan-perbedaan kecil saja bisa jadi masalah besar. Dari situlah rentan muncul kasus perceraian baru,” ujarnya.
Perkembangan teknologi informasi juga disebut mempengaruhi perilaku remaja.
“Orang tua perlu tahu dunia anak sekarang supaya bisa membimbing mereka dengan tepat,” tutupnya. (Wartabanjar.com/Ramadan)
Editor Restu







