Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada penyakit yang menular secara sendirian tanpa izin Allah, tidak ada hantu bergentayangan dan tidak ada shafar (penyakit perut) yang terjadi dengan sendirinya.” (HR Muslim, no 4120).
Dalam ajaran Islam, tidak ada dasar yang kuat yang mendukung kepercayaan bahwa Bulan Safar adalah bulan yang membawa kesialan. Quran dan Hadis tidak menyebutkan Bulan Safar secara khusus dalam konteks negatif atau menyebutkan bahwa bulan ini memiliki sifat-sifat yang merugikan.
Islam mengajarkan bahwa semua bulan, termasuk Bulan Safar, adalah ciptaan Allah dan tidak ada bulan yang memiliki kekuatan khusus untuk membawa kesialan.
Hadis-hadis yang ada tidak menunjukkan bahwa bulan Safar memiliki pengaruh negatif atau membawa keberuntungan. Sebagian besar ulama sepakat bahwa keyakinan mengenai kesialan bulan Safar adalah hasil dari takhayul dan tradisi budaya yang tidak memiliki dasar dalam ajaran Islam.
Sebagai umat Islam, harus memeriksa kembali keyakinan kita dan memastikan bahwa praktik kita sesuai dengan prinsip-prinsip yang telah ditetapkan dalam Quran dan Hadis.
Islam mengajarkan bahwa nasib dan keberuntungan adalah bagian dari takdir yang ditentukan oleh Allah dan tidak terikat pada waktu atau bulan tertentu.
Bulan Safar, seperti bulan-bulan lain dalam kalender Hijriah, adalah waktu yang sama-sama diciptakan oleh Allah dan tidak memiliki sifat-sifat khusus yang membawa kesialan atau keberuntungan.
Mitos dan kepercayaan yang berkembang di masyarakat seringkali merupakan hasil dari budaya dan tradisi lokal yang tidak memiliki dasar dalam ajaran Islam yang sahih.
Sebagai umat Islam, penting untuk memahami ajaran agama secara mendalam dan tidak terjebak dalam takhayul atau kepercayaan yang tidak berdasar.
Dengan memahami fakta dan menyikapi mitos bulan safar dengan bijak, kita dapat menjalani bulan Safar dengan pemahaman yang benar dan mengikuti ajaran Islam yang murni.(baznas)
Editor Restu







