Mereka menonjolkan dua inovasi unggulan yang telah mengantar mereka ke tingkat provinsi: MAS BASO (Masyarakat Bebas Asap Rokok) dan JURAGAN KAMBANG (Jumat Olahraganya Kayu Abang).
Namun, bukan hanya itu, berbagai kreasi lain juga berhasil memukau tim penilai, seperti Mahabang (makan naget haruan kayu abang), Wangi (wadai singkong pelangi), Sari Kayu Abang (wedang serei, jahe dan limau kayu abang), serta Sapa Sayang (selimut pelindung ASI kayu abang).
Tak ketinggalan, Bank Sampah Kayu Abang juga berhasil mengolah sampah menjadi produk bernilai seperti eco enzym, composter, dan bunga hias yang cantik.
Peninjauan Lapangan dan Apresiasi Tim Juri
Proses penilaian tidak hanya terfokus di sekretariat PHBS.
Tim juri, yang diwakili oleh Desy, Fitti, Ira, dan Ellysa dari Dinas Kesehatan Provinsi, serta Ibu Juhairiyah dan Ibu Ida Sumiati dari TP. PKK Provinsi Kalsel, secara langsung meninjau rumah tangga warga, posyandu, taman bermain, hingga lokasi pengelolaan sampah.
Para ibu kader kesehatan dengan sigap mendampingi dan menjelaskan beragam program, termasuk pemanfaatan tanaman TOGA dan program bank sampah berbasis keluarga yang telah berjalan efektif.
Dra. Hj. Djuhairiah Djuhji, M.M. Kes, selaku Wakil Ketua Pokja IV TP PKK Provinsi Kalsel, mewakili tim penilai, melayangkan pujian atas dedikasi Desa Kayu Abang.
“Kami melihat ada semangat gotong royong dan komitmen dari seluruh elemen masyarakat. Ini adalah kunci keberhasilan PHBS yang berkelanjutan,” tegas Ibu Djuhairiah, menggarisbawahi pentingnya kolaborasi dalam mencapai tujuan kesehatan.







