Banyak konsumen yang kini lebih selektif, hanya membeli barang dengan harga satuan yang lebih murah atau benar-benar dibutuhkan saja.
Alphonsus optimistis fenomena rojali ini tidak akan berlangsung lama.

Banyak konsumen yang kini lebih selektif, hanya membeli barang dengan harga satuan yang lebih murah atau benar-benar dibutuhkan saja.
Alphonsus optimistis fenomena rojali ini tidak akan berlangsung lama.
Seiring dengan meningkatnya stimulus dan kebijakan pemerintah untuk mendorong daya beli, ia yakin pola konsumsi masyarakat akan kembali normal.
“Kalau daya belinya pulih, ‘rojali’-nya pasti berkurang. Jadi kami yakin ini fenomena ini enggak akan selamanya, ini hanya sifatnya sementara, di mana daya beli masyarakat masih belum pulih,” ujarnya.
Menurutnya, peningkatan fenomena rojali mulai terasa sejak Ramadhan 2024, saat daya beli masyarakat mulai mengalami tekanan.
Ketika itu, momen Ramadhan dan Idulfitri yang biasanya menjadi puncak penjualan ritel tidak mencapai hasil maksimal.
Setelah Lebaran, kondisi semakin berat karena masuk periode low season yang tahun ini terasa lebih panjang. (yayu)