VIDEO - MIRIS! Niat Cari Makan, Santri Dic4mbuk Hingga Kakinya Melepuh: Bentuk Disiplinkah?
Ukuran Huruf:
https://youtube.com/shorts/ZcP8au5gVkk
WARTABANJAR.COM - Ketika malam Idul Adha seharusnya jadi momen penuh syukur dan kasih sayang, suasana berbeda justru terjadi di sebuah pondok pesantren (PonPes) Desa Segaran, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang. Seorang santri SD, AZ, pulang dari sawah dalam kondisi luka parah setelah dicambuk oleh pengasuh pondoknya sendiri.
Kejadian bermula pada kamis malam (5/6/2025), saat AZ, yang masih duduk di kelas 5 SD, keluar dari pondok untuk mencari makan. Ia kelaparan dan tidak mendapat izin dari pengasuh. Saat kembali ke pondok, AZ tidak langsung diperingatkan, tapi justru dicambuk sebanyak lima kali dengan rotan bambu, sebagai bentuk hukuman karena dianggap melanggar aturan.
Akibatnya, kaki AZ melepuh, memar parah, hingga kulitnya mengelupas. Video kondisinya viral di media sosial dan mengundang kemarahan publik. Sayangnya, laporan resmi ke polisi baru masuk dua minggu setelah kejadian, tepatnya pada 20 Juni.
Pihak keluarga kemudian melapor ke Unit PPA Polres Malang yang langsung bergerak menyita rotan sebagai barang bukti, serta memeriksa korban, orang tua, pengasuh pondok, hingga saksi santri lainnya. Kini penyelidikan masih berlangsung, dan Kementerian Agama Kabupaten Malang juga turun tangan.
Meski pihak pondok berdalih bahwa itu bagian dari penegakan disiplin, publik mempertanyakan tindakan mencambuk anak usia 9 tahun dengan rotan apakah bentuk mendidik?
Kita semua sepakat bahwa pendidikan butuh ketegasan. Tapi ketika yang muncul adalah luka, trauma, dan rasa takut, maka itu bukan lagi disiplin, itu kekerasan. Dan sayangnya, praktik semacam ini masih dianggap "lumrah" di beberapa lembaga pendidikan berbasis agama.
Padahal, nilai-nilai Islam sejatinya mengedepankan kasih sayang, kelembutan, dan akhlak mulia. Bukan rotan. Bukan ancaman. Bukan luka di tubuh anak kecil yang hanya ingin makan karena lapar.
Kasus ini harus jadi momentum untuk mengevaluasi ulang sistem pengasuhan dan pendidikan di pesantren. Bukan untuk menyudutkan, tapi untuk memperbaiki. Agar tidak ada lagi anak yang harus viral dulu baru ditolong. Agar tak ada lagi luka yang dibungkus dalih "mendidik".
Karena sejatinya, agama itu menyejukkan. Dan pendidikan itu menyembuhkan. Bukan menyakiti.(vri/berbagai sumber)
#santri #dicambuk #malang #wartabanjar