Hari Bhayangkara: Menguak Sejarah Polri di Kalimantan Selatan

WARTABANJAR.COM, BANJARBARU – Pada 1 Juli, bangsa Indonesia memperingati Hari Bhayangkara sebagai momen bersejarah kelahiran Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri).

Namun, lebih dari sekadar seremoni tahunan, Hari Bhayangkara juga menyimpan kisah heroik dan perjuangan panjang, terutama di Kalimantan Selatan, wilayah yang menjadi saksi pembentukan cikal bakal kekuatan Polri di daerah.

Menurut sejarawan dan akademisi Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari, Mursalin, nama “Bhayangkara” sendiri memiliki akar sejarah kuat, yakni berasal dari pasukan elit Kerajaan Majapahit yang dipimpin oleh Mahapatih Gajah Mada.

Baca Juga

Cemburu Buta, Ini Kronologi Penganiayaan Ibu dan Anak di Mantuil

“Pasukan ini bertugas menjaga keselamatan raja dan stabilitas kerajaan, dan sebuah nilai yang terus dipegang teguh oleh Polri hingga saat ini,” ungkapnya saat dikonfirmasi, Senin (01/07/2025) siang.

Mursalin menambahkan, kisah perjuangan kepolisian di Kalimantan mencuat pada era 1950-an, saat Indonesia tengah dilanda ketidakstabilan politik dan berbagai pemberontakan bersenjata.

“Salah satunya adalah pemberontakan yang dipimpin Letnan Dua Ibnu Hajar melalui kelompok Kesatuan Rakyat yang Tertindas (KRyT), yang berafiliasi dengan gerakan Negara Islam Indonesia (NII). Gerakan ini menyebar di wilayah Barabai, Birayang, hingga Batumandi, dan menggunakan taktik perang gerilya,” tuturnya.

Menghadapi ancaman tersebut, pemerintah pusat mengerahkan satuan Mobil Brigade (Mobrig) dari Surabaya yang berhasil menumpas pemberontakan dan menancapkan tonggak sejarah pembentukan Kepolisian Kalimantan.