Hari Bhayangkara: Menguak Sejarah Polri di Kalimantan Selatan

“Satuan Mobrig inilah yang kemudian berkembang menjadi Kepolisian Daerah (Polda) Kalimantan Selatan pada 1953,” lanjut Mursalin.

Salah satu kisah paling menggugah datang dari seorang Bhayangkari bernama Mathilda Batlayeri. Ia gugur bersama ketiga anak dan janinnya saat mempertahankan pos polisi dari serangan KRyT.

“Namanya kini abadi sebagai simbol keberanian dan pengorbanan insan Bhayangkara di Kalimantan,” imbuh Mursalin.

Kepolisian Keresidenan Kalimantan awalnya mencakup wilayah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Namun, seiring perkembangan administrasi, Kalimantan Tengah resmi menjadi provinsi tersendiri pada 1957.

“Struktur kepolisian pun terus berevolusi dari Kepolisian Komisariat (KPKOM) pada 1959 hingga menjadi bagian dari Angkatan Kepolisian Republik Indonesia (AKRI) pada 1962,” ujar Mursalin.

Tahun 1974 menjadi babak baru dengan penggabungan Komando Daerah Angkatan Kepolisian (KOMDAK) Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah menjadi KOMDAK XIII/KALRA.

Barulah pada 1992, keduanya resmi berpisah, dan Polda Kalimantan Selatan berdiri sendiri dengan status tipe “B”, yang kemudian direorganisasi menjadi tipe “C”.

“Perjalanan panjang dan penuh dinamika ini menunjukkan bahwa Polri bukan sekadar lembaga keamanan, tetapi juga bagian dari sejarah perjuangan bangsa termasuk di Tanah Banua,” pungkas sejarawan Banua tersebut. (IKhsan)

Editor Restu