Akan tetapi Kiai Masduki menegaskan bahwa AI memiliki sisi gelapnya, yakni AI tidak bisa membedakan mana sisi agama yang benar dan tidak benar.
“AI tidak bisa membedakan mana yang ekstrim dan mana yang moderat, mana islam yang tawasut, mana islam yang berlebihan. Jadi semuanya masuk saja di AI,” ujarnya.
Menurut Kiai Masduki, sangat penting bagi seseorang dalam beragama untuk memiliki guru yang bisa membimbing, dan bisa bertanya lebih lanjut terkait substansi konten yang ada di AI tersebut.
“Penting bagi kita belajar agama itu bersanad, artinya ada silsilah keguruannya. Karena kalau hanya belajar melalui AI maka agama itu seperti hutan belantara,”ungkapnya.
“Sebagai penikmat AI harus pandai menimbang-nimbang, mengkritisi konten-konten yang ada,” tuturnya menambahkan. (MUI)
Editor Restu







