Seorang warga yang ditemui Ipda Lulus menjelaskan bahwa jumlah penduduk RT 3 hanya sekitar 10 kepala keluarga, sehingga wajar jika murid di sekolah hanya tiga orang, semuanya duduk di kelas dua.
“Dulu sempat ramai, ada 25 murid. Tapi sekarang banyak warga pindah. Tidak ada listrik, tidak ada sinyal. Untuk nyalakan lampu saja pakai genset,” tutur warga setempat.
Ketimpangan Pendidikan
Ketimpangan fasilitas pendidikan antara kota dan pedalaman menjadi luka lama yang belum sembuh. Di saat banyak sekolah di kota sudah memakai teknologi digital, sekolah ini masih berjuang dengan keterbatasan paling dasar: cahaya dan sinyal.
Namun yang luar biasa, menurut penuturan warga, para guru tetap datang dan mengajar meski hanya ada tiga murid. Mereka tidak menyerah. Mereka adalah pahlawan sunyi di balik bukit-bukit Kalimantan.
Kondisi ini menyuarakan satu harapan: pemerataan pendidikan yang sesungguhnya. Anak-anak di pedalaman juga punya hak untuk mengakses pendidikan layak, teknologi, dan masa depan yang cerah.
“Perjuangan guru di sini luar biasa. Mereka layak dapat perhatian lebih,” kata Ipda Lulus.(Wartabanjar.com/Alfi)
editor: nur muhammad







