Sekitar pukul 10.30 WITA, panitia masjid menjemput beliau ke lokasi. Bahkan, Ustaz Yahya masih sempat menyaksikan penyembelihan hewan kurban di halaman masjid. Sementara istrinya dijamu oleh salah satu takmir masjid yang tinggal tidak jauh dari lokasi.
Pukul 11.30 WITA, Ustaz Yahya masuk ke masjid, duduk di shaf pertama sambil membaca Surah Al-Kahfi dan berdzikir. Setelah azan zuhur berkumandang pukul 12.05 WITA, ia naik ke mimbar menyampaikan khutbah dengan tema “Kekuatan Iman dan Pengorbanan.”
Khutbah berjalan lancar selama kurang lebih 15 menit. Jamaah memenuhi masjid hingga lantai dua. Namun, tepat di penghujung khutbah kedua, tragedi terjadi.
“Saya kira beliau hendak mengambil air minum, tapi ternyata jatuh di mimbar,” ujar Harfan dengan suara berat.
Dilarikan ke Klinik, Tapi Takdir Berkehendak Lain
Ustaz Yahya segera dibawa ke Klinik RS Bahagia yang hanya berjarak sekitar 100 meter dari masjid. Namun, pihak masjid tidak mengetahui pasti apakah sang ustaz wafat di dalam masjid atau dalam perjalanan menuju klinik.
“Sudah tak sadar waktu diangkat. Kami belum tahu, beliau wafat di masjid atau di UGD,” ujar Harfan.
Pukul 12.35 WITA, evakuasi dilakukan. Ibadah salat Jumat sempat terhenti, kemudian dilanjutkan pada pukul 13.46 WITA setelah panitia dan warga pengantar kembali dari klinik.
Pukul 14.00 WITA, salat Jumat usai dan kabar duka menyebar di antara jamaah. Pukul 13.45 WITA, jenazah Ustaz Yahya kembali dibawa ke masjid dengan ambulans. Istrinya tampak duduk di bagian belakang kendaraan dalam keadaan terpukul.
Jenazah sempat disemayamkan di samping mimbar tempat beliau menghembuskan napas terakhir. Rencananya, jenazah akan dimandikan, dikafani, dan diterbangkan ke kediaman almarhum di Jakarta.
Dai yang Wafat dalam Khutbah, Simbol Keteguhan di Jalan Dakwah
Wafatnya Ustaz Yahya Waloni menjadi bukti nyata keteguhan dalam berdakwah hingga akhir hayat. Ia dikenal sebagai dai yang rela menggunakan biaya pribadi demi menyebarkan dakwah ke pelosok, serta membagikan buku-buku agama secara gratis.
Meski kerap difitnah dan dikritik, almarhum tetap teguh di jalur dakwah. Seperti halnya Ustaz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, almarhum meninggal dalam keadaan berdakwah – sebuah kematian yang penuh kemuliaan di mata umat.(Wartabanjar.com/terkinidotid/berbagai sumber)
editor: nur muhammad







