WARTABANJAR.COM – Media sosial kembali dihebohkan dengan beredarnya video yang memperlihatkan Kelompok Pemberontak TPNPB-OPM melakukan penyergapan terhadap pasukan Tentara Nasional Indonesia (TNI) di wilayah Papua Barat. Yang mengejutkan, kelompok tersebut tampak menggunakan senapan buatan dalam negeri, Pindad SS2-V1 lengkap dengan teropong Trijicon ACOG, serta senapan Beretta BM59. Video yang diunggah ke Instagram itu langsung memicu perdebatan di kalangan netizen. Banyak yang mempertanyakan bagaimana senjata militer tersebut bisa jatuh ke tangan kelompok bersenjata. BACA JUGA:Geger Diduga Teror Pembakaran di Tanjung Rema Darat, Sudah Terjadi di 5 Lokasi “Pindad? Dapat dari mana ya kira-kira? 😮” tulis salah satu warganet yang heran. Ternyata, dugaan mengenai asal-usul senjata itu bukan tanpa dasar. Polda Papua dan Papua Barat sebelumnya telah menangkap tiga tersangka yang terlibat dalam penyelundupan senjata dan amunisi ke kelompok separatis tersebut. Mereka adalah: Teguh Wiyono, sebagai pemasok dan distributor senjata serta amunisi. Muhammad Kamaludin, operator mesin perakitan senjata. Pujiono, perakit senjata api. Selain itu, aparat juga menangkap mantan anggota TNI Yuni Enumbi, eks anggota Kodam 18/Kasuari, saat membawa senjata yang dikirim dari Surabaya. Penyelidikan lebih lanjut mengarah pada penangkapan Eko Sugiyono, bekas anggota TNI lainnya yang merupakan bagian dari jaringan Enumbi. Komentar netizen lainnya pun bermunculan, menyindir situasi ini: “Wkwk, kelihatan latihannya dari cara pegang senjatanya 😂” “ROMUSA, rombongan muka sama, wis uelek kakehan polah!” “Antara dibelotkan atau dirampas, bisa jadi oknum aparat ikut bermain.” Isu ini juga memunculkan pertanyaan serius tentang integritas sebagian aparat dan lemahnya pengawasan terhadap aliran senjata. Beberapa spekulasi menyebut senjata dan amunisi bisa saja diselundupkan dari luar negeri seperti Australia, Amerika Serikat, Selandia Baru, atau bahkan Belanda. Namun berdasarkan informasi dari pihak keamanan, sebagian besar senjata diperoleh kelompok bersenjata melalui: Menyergap pasukan TNI saat lengah dan merampas senjata mereka. Membeli dari oknum aparat yang membelot atau sengaja menjual. Mendapatkan pasokan peluru dari jalur ilegal melalui perbatasan Papua Nugini. “Waduh, siapa yang nyelundupin itu? Kok bisa dapat senjata dari Pindad?!” – tulis netizen lainnya dengan nada geram. Fenomena ini menjadi alarm serius bagi aparat keamanan untuk meningkatkan pengawasan serta menindak tegas setiap pihak yang terlibat, termasuk oknum internal. Dengan persenjataan yang semakin canggih di tangan kelompok separatis, ancaman terhadap stabilitas nasional pun semakin nyata.(Wartabanjar.com/militarynewsinternational/berbagai sumber) editor: nur muhammad