Inter juga menurutnya melupakan poin bahwa PSG pasti sudah belajar dari kegagalan Barcelona.
Dan Jangan lupa, Luis Enrique adalah seorang Barcelonitas, dia paham bagaimana membalaskan kekalahan tim yang pernah dibawanya menjuarai UCL itu.
Masalah utama Inter adalah momentum dan kepercayaan diri yang runtuh setelah gol kedua PSG. Gol itu seperti gong kematian. Dari situ, Inter seperti kehilangan nyawa.
Bung Rizma juga menambahkan, bahwa Inter Milan bukan hanya kesulitan membangun serangan, tetapi bahkan untuk sekadar menguasai bola saja terlihat seperti beban.
PSG menutup pertandingan dengan sangat profesional, tetap menekan mengejar gol meski sudah unggul dari segi skor dan permainan.
PSG sendiri tidak memberi ruang bagi Inter untuk bernapas. Bagi PSG, tidak boleh ada drama, tidak ada peluang bangkit, hanya dominasi sepihak.
PSG pantas juara dan ini jelas bukan kemenangan keberuntungan. Ini bukan hasil dari kesalahan lawan.
Ini adalah PSG yang menunjukkan bahwa mereka kini adalah tim dengan identitas yang kuat, fleksibilitas taktik, dan kolektivitas yang matang. Absennya Mbappé malah menjadi momen bagi pemain lain untuk bersinar, dan mereka menjawabnya dengan penampilan terbaik musim ini.
Inter tidak buruk-buruk amat, hanya saja, mereka menghadapi tim yang lebih siap, lebih tajam, dan lebih lapar. PSG bukan hanya pantas juara, mereka juara dengan cara yang menyakinkan ujar Bung Rizman.
Editor: andi akbar







