WARTABANJAR.COM – Sebuah video viral di Instagram menggugah hati ribuan netizen. Dalam video tersebut, tampak seorang siswa duduk sendiri di sudut sekolah, memandangi teman-temannya yang tengah merayakan kelulusan dengan penuh suka cita. Sementara tawa dan sorak gembira terdengar di halaman, siswa ini hanya bisa menyaksikan dari kejauhan—tanpa seragam perpisahan, tanpa senyum, dan tanpa tempat di tengah kebahagiaan bersama. Usut punya usut, siswa tersebut tidak diizinkan mengikuti acara perpisahan karena belum melunasi uang Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP). Meski dinyatakan lulus, ia tidak mendapatkan ijazah dan merasa malu untuk bergabung bersama teman-temannya. BACA JUGA:VONIS MENGEJUTKAN! Pembunuh Mahasiswi UTM Een Jumiati Dijatuhi Hukuman Mati, Ini Alasannya Kisah ini sontak mengundang gelombang simpati dan kemarahan dari warganet. Banyak yang menyayangkan kurangnya kebijakan dari pihak sekolah terhadap siswa yang mengalami kesulitan ekonomi. Berikut beberapa komentar netizen yang penuh empati: "Kalau dalam grup paguyuban kami, pasti dibicarakan kendala anak ini. Kemudian diberikan solusi, sumbangan sukarela untuk membantu pembayaran SPP ataupun iuran uang perpisahannya 😢" "Insya Allah suatu saat kamu akan menjadi orang yang sukses, Dek. Sehat, panjang umur, dan selalu dijaga Allah 🤲🥹" "Coba kepala sekolah atau wali kelasnya punya kebijakan sendiri agar semua murid bisa ikut perpisahan. Misalnya, ijazah boleh ditahan kalau belum lunas SPP, tapi perpisahan jangan sampai dilewatkan. Apalagi ini hanya satu orang, kasihan banget.” “Tenang, Dek. Sukses itu nggak harus punya foto perpisahan kok 💪” Tidak sedikit pula yang mempertanyakan kebijakan sekolah, hingga meminta instansi terkait turun tangan menangani persoalan serupa di sekolah lain. Kejadian ini menjadi sorotan publik dan membuka kembali diskusi soal akses pendidikan yang adil serta pentingnya empati di lingkungan sekolah. Di tengah semangat perayaan kelulusan, masih ada anak-anak yang terpinggirkan hanya karena kendala biaya. Semoga kejadian ini menjadi pelajaran penting bagi dunia pendidikan agar lebih manusiawi dan inklusif.(Wartabanjar.com/tanahbumbuiinfo/berbagai sumber) editor: nur muhammad