Wadai Khas Banjar Amparan Tatak Diusulkan Jadi Warisan Tak Benda Samarinda

“Itu memang merupakan salah satu syarat pengajuan warisan budaya,” ungkapnya.

Selain dokumentasi tulisan, Barlin menuturkan terdapat beberapa syarat lain. Mulai dari formulir penetapan yang ditandatangani oleh kepala dinas setempat. Kemudian dokumentasi gambar terbaru dengan kualitas jernih. Juga dokumentasi berbentuk video.

Pengajuan amparan tatak beserta perahu tambangan dan bubur peca sebagai warisan budaya Samarinda merupakan langkah awal.

Barlin menuturkan, nantinya Disdikbud Samarinda akan menggodok tradisi lokal yang kemudian akan diteliti dan diusulkan setiap tahun.

Muhammad Sarip menuturkan terdapat beberapa alasan mengapa amparan tatak pantas diajukan menjadi warisan budaya Samarinda. Pertama, nilai budaya.

Dalam proses produksinya, amparan tatak menggunakan bahan yang bersumber dari lokalitas pulau Kalimantan.

Kedua, nilai sosial. Meski berasal dari etnis Banjar, amparan tatak telah menjadi kudapan khas Samarinda yang dinikmati masyarakat secara luas tanpa memedulikan latar belakang kelompok dan golongan.

Ketiga, nilai spiritual. Amparan tatak kerap dihidangkan dalam acara-acara besar.

Mulai dari resepsi pernikahan, hidangan berbuka puasa hingga hari raya besar agama seperti perayaan hari kelahiran Nabi Muhammad.

Jejak Amparan Tatak di Samarinda

Meski telah menjadi kudapan sehari-hari, Sarip menyebutkan bahwa amparan tatak di Samarinda dipopulerkan oleh Hajjah Hatim. Sejak 1970-an, Hatim menjajakan amparan tatak dengan berjalan kaki di Samarinda.

Saking populernya, nyaris seluruh penjual amparan tatak serta wadai sesumpan menggunakan nama Hajjah Hatim.

Padahal, Sarip menyebutkan bahwa Hajjah Hatim bukanlah pembuat amparan tatak.

“Yang membuat amparan tatak adalah besannya yang bernama Hajjah Zainab,” sebut Sarip.

Peran Hajjah Hatim lebih sebagai distributor kue yang dibuat oleh besannya tersebut.

Setiap pagi, Hatim membawa amparan tatak menaiki perahu tambangan dari Samarinda Seberang ke Samarinda Kota. (Berbagai sumber)

Editor: Erna Djedi