Dengan panjang tubuh hanya 5–7,5 cm, robot kecoa ini mampu menyusup ke celah sempit di bawah reruntuhan, tempat yang tak bisa dijangkau manusia.
Teknologi ini memungkinkan pengendali untuk mengontrol arah gerak kecoa dari jarak jauh, sambil menerima data visual dan sensorik yang diproses melalui algoritma pembelajaran mesin (machine learning) untuk mendeteksi tanda-tanda kehidupan.
Walaupun teknologi ini semula dijadwalkan akan aktif digunakan pada 2026, keadaan darurat gempa Myanmar mempercepat penggunaannya di dunia nyata.
Meski tidak ada korban selamat yang ditemukan secara langsung oleh robot ini, keberadaannya sangat membantu dalam menjelajahi area paling terdampak dan sulit dijangkau. (Berbagai sumber)
Editor: Erna Djedi







