Kedalaman Dangkal, Kerusakan Maksimal
Salah satu faktor utama yang membuat gempa ini begitu merusak adalah kedalamannya yang hanya 10 kilometer. Roger Musson, peneliti dari Survei Geologi Inggris, menjelaskan bahwa kedalaman yang dangkal membuat energi gempa langsung menghantam permukaan tanpa banyak berkurang.
“Karena terjadi di kedalaman yang dangkal, gelombang kejut tidak melemah saat bergerak ke permukaan. Bangunan menerima dampak penuh dari guncangan, menyebabkan kehancuran yang lebih luas,” jelas Musson dalam laporan Reuters pada Sabtu (29/3/2025).
Ia juga menambahkan bahwa infrastruktur di Myanmar, khususnya di wilayah Sagaing, belum siap menghadapi gempa besar karena kejadian seismik besar di daerah ini tergolong langka. Gempa besar terakhir terjadi pada 1956, sehingga sebagian besar bangunan tidak didesain untuk menahan guncangan sekuat ini.
Dampak Ekonomi dan Prediksi Korban Jiwa
Berdasarkan data dari USGS, gempa ini diprediksi mengguncang hingga 7 persen Produk Domestik Bruto (PDB) Myanmar. Selain itu, perkiraan korban jiwa yang bisa menembus 10 ribu orang didasarkan pada pola gempa sebelumnya serta kesiapan infrastruktur di Myanmar yang masih rendah dalam menghadapi bencana besar.
Musson menekankan bahwa perhatian utama saat ini adalah upaya penyelamatan dan evakuasi korban yang masih tertimbun di bawah reruntuhan. Dengan situasi yang masih berkembang, jumlah korban dan dampak ekonomi kemungkinan akan terus meningkat dalam beberapa hari ke depan.
Gempa Myanmar ini tidak hanya menjadi peringatan keras bagi negara tersebut, tetapi juga bagi negara-negara di sekitarnya untuk meningkatkan kesiapsiagaan terhadap bencana seismik yang dapat terjadi kapan saja.(Wartabanjar.com/cnnindonesia/detik)
editor: nur muhammad






