Hal ini, menurut Deny terjadi bukan saja karena topografi di wilayah hilir yang memang rendah, tapi juga sulitnya untuk melakukan normalisasi sungai di perbatasan daerah.
“Karena saluran sungai di wilayah tersebut masih tersambung dengan Sungai Maluka yang berada di daerah sebelah. Tapi, secara durasi maupun ketinggian jauh berkurang,” ucapnya.
Terlebih, pada musibah banjir pada Januari yang lalu terjadi sedimen (erosi) di muara Sungai Maluka.
“Sehingga ada antrian air yang keluar, jadi di daerah ujung airnya akan lebih memakan waktu untuk turun,” lanjutnya.
Oleh Karenanya Dirinya memastikan, pihaknya akan terus melakukan evaluasi di wilayah hilir.
Mengingat, wilayah tersebut memang merupakan daerah tangkapan air atau sering tergenang. (IKhsan)
Editor Restu







