Polisi mengatakan 30 pria tewas di antara suku-suku yang bermusuhan dan ratusan wanita dan anak-anak mengungsi, dengan "banyak" rumah terbakar habis. Baca juga: Evakuasi Wanita Penambang Tewas Terjepit Bebatuan di HSS Berlangsung Hingga Malam Hari "Dua pejabat juga tewas saat menunggu tumpangan pulang setelah bekerja,' kata Tondop seperti dikutip Wartabanjar.com. Pemicu Kerusuhan: Konflik Tambang Ilegal Polisi mengatakan kerusuhan dimulai pada bulan Agustus ketika "para penambang ilegal" menimbulkan luka yang mengancam jiwa pada seorang pemilik tanah di Lembah Porgera, lokasi salah satu deposit emas terbesar di Papua Nugini. "Situasi yang memburuk ini disebabkan oleh penambang ilegal dan pemukim ilegal yang mengorbankan pemilik tanah tradisional dan menggunakan kekerasan untuk meneror masyarakat setempat," kata Komisaris Polisi David Manning dalam sebuah pernyataan, dilansir kantor berita AFP. Baca juga: Mega Ajak Dunia Internasional Susun Hukum Internasional soal Kecerdasan Buatan Dia mengatakan "kekuatan mematikan" akan digunakan untuk memulihkan ketertiban di wilayah dataran tinggi yang sulit dijangkau tersebut. "Sederhananya, ini berarti jika Anda mengangkat senjata di tempat umum atau mengancam orang lain, Anda akan ditembak," kata Manning. Polisi mengatakan para penambang ilegal dari klan Sakar telah menempati tanah milik musuh mereka dari Piande. Masuknya Senpi Perburuk Konflik Konflik suku sering terjadi di dataran tinggi Papua Nugini, tetapi masuknya senjata otomatis telah membuat bentrokan semakin mematikan. Baca juga: Pemotor Tewas Tertabrak Dumptruck di Jorong, Kendaraan Korban Hancur Berkeping-keping Polisi mengatakan bahwa pertempuran terbaru telah dipicu oleh keberadaan lebih dari "100 senjata berkekuatan tinggi di tangan yang salah". Tim keamanan saat ini telah ditempatkan di sepanjang jalan raya menuju tambang emas tersebut, menggunakan pengeras suara untuk menyiarkan pesan perdamaian. (Sidik Purwoko)
Editor: Sidik Purwoko