Hal tersebut berdasarkan surat perintah penangkapan sebagai bagian dari penyelidikan awal polisi.
OFMIN, lembaga Perancis yang bertanggung jawab untuk mencegah kekerasan terhadap anak di bawah umur, mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Durov.
Lembaga itu menuduh Telegram tidak memiliki cukup moderator dan kurang kerja sama dengan pihak berwenang.
Polisi meyakini situasi di atas dan fitur enkripsi Telegram telah memungkinkan terjadinya aktivitas kriminal tanpa henti, menyebabkan Durov dianggap sebagai kaki tangan dalam aktivitas perdagangan narkoba, kekerasan dunia maya, penipuan, kejahatan terorganisir, penghasutan, dan terorisme.
Durov (39 tahun), memiliki kewarganegaraan Rusia, Prancis, UEA, dan Saint Kitts dan Nevis (negara Karibia).
Dia diperkirakan menghadapi hukuman hingga 20 tahun penjara.
Kantor berita TASS melaporkan pada hari yang sama bahwa kedutaan Rusia di Prancis meminta akses konsuler ke Durov dan meminta jaminan atas hak-haknya.
Namun pemerintah Prancis sejauh ini menolak untuk bekerja sama. (berbagai sumber)
Editor: Erna Djedi







