“Dalam upaya mencegah dan menghentikan bahaya di dunia nyata,” klaim perusahaan.
Dasar penilaiannya adalah “perilaku mereka baik daring maupun luring – yang paling penting, hubungan mereka dengan kekerasan.”
Berdasarkan kebijakan ini, Meta membagi penetapan organisasi atau individu ini dalam dua tingkatan.
Pertama, Tingkat (Tier) 1, yang berfokus pada entitas yang terlibat dalam tindakan merugikan serius di dunia nyata.
Contohnya, mengorganisasi atau mengadvokasi kekerasan terhadap warga sipil, berulang kali merendahkan martabat manusia, mengadvokasi tindakan merugikan terhadap orang berdasarkan karakteristik yang dilindungi, atau terlibat dalam operasi kriminal sistematis.
Contoh organisasi yang masuk di tier ini adalah organisasi kriminal, termasuk yang ditetapkan oleh pemerintah Amerika Serikat sebagai gembong perdagangan narkotika dan organisasi teroris.
Ini termasuk entitas dan individu yang ditetapkan oleh pemerintah Amerika Serikat sebagai organisasi teroris asing (FTO) atau teroris global yang ditetapkan secara khusus (SDGT).
“Kami menghapus Glorifikasi, Dukungan, dan Representasi entitas Tingkat 1, pemimpin, pendiri, atau anggota terkemuka mereka, serta referensi yang tidak jelas kepada mereka,” urai Meta.
Kedua, Tingkat (Tier) 2, yang mencakup Aktor Non-Negara yang melakukan kekerasan terhadap aktor negara atau militer dalam konflik bersenjata tetapi tidak secara sengaja menargetkan warga sipil.
Ini juga merupakan entitas yang mungkin berulang kali melakukan pelanggaran terhadap kebijakan Ujaran Kebencian atau Organisasi dan Individu Berbahaya Meta di dalam atau di luar platform.
“Kami menghapus Glorifikasi, Dukungan Material, dan Representasi entitas ini atau pemimpin, pendiri, atau anggota terkemuka mereka.”
Sebetulnya, Malaysia pernah mengajukan komplain kepada Meta atas penghapusan kontennya, termasuk liputan media lokal tentang pertemuan terakhir Anwar dengan Haniyeh.
Belakangan setelah protes itu, materi-materi konten tersebut kemudian dipulihkan.
Meta pada saat itu mengatakan pihaknya tidak sengaja menekan suara-suara di platform Facebook-nya dan tidak membatasi konten yang mendukung Palestina. (Yayu/berbagai sumber)
Editor: Yayu







