Metode Freeze Drying ASI Marak, Begini Tanggapan Satgas ASI IDAI

WARTABANJAR.COM, JAKARTA – Satuan Tugas Air Susu Ibu (Satgas ASI) Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyebut, metode freeze drying alias pengeringan beku mempengaruhi manfaat komponen dalam ASI itu sendiri. Metode ini marak dilakukan masyarakat dalam kurun waktu terakhir, terutama di kalangan perkotaan.

Demikian dikatakan Ketua Satgas ASI IDAI, DR Dr Naomi Esthernita Fauzia Dewanto, Sp.A(K) seperti dikutip Wartabanjar.com. Menurutnya, meski dapat mempertahankan struktur molekul susu, proses itu dapat menghilangkan kandungan airnya.

“Tanpa bukti penelitian yang memadai, hingga saat ini belum jelas apakah freeze-dryed ASI memiliki rasio protein, lemak, karbohidrat yang tepat sebagai sumber nutrisi penting yang dibutuhkan bayi, berikut zat aktif untuk kekebalan tubuh dan tumbuh kembang bayi,” kata Dr Naomi.

Baca juga: Jelang Kompetisi Debat Mahasiswa Indonesia 2024, UNISKA MAB Gelar Seleksi Tingkat Universitas

Metode freeze-drying juga tidak melalui prosedur pasteurisasi yang bertujuan membunuh bakteri berbahaya. Dalam hal ini, pasteurisasi sengaja dihindari untuk menjaga probiotik vital yang ada dalam ASI. Dengan demikian maka risiko kontaminasi tetap menjadi ancaman, khususnya pada saat rekonsiliasi penambahan air pada bubuk freeze-dryed ASI sebelum dikonsumsi bayi.

Satgas ASI IDAI juga memberikan catatan khusus mengenai apakah produk freeze-dryed ASI merupakan Raḍāʿah. Permasalahan ini penting bagi mayoritas umat muslim di Indonesia, mengingat Radha’ah adalah hubungan mahram yang diakibatkan oleh persusuan yang dilakukan oleh seorang perempuan kepada bayi yang bukan anak kandungnya. Apabila bubuk freeze-dryed ASI dilarutkan kembali dengan air, secara wujud warna serta rasanya kembali menjadi susu, maka berlaku Raḍāʿah bagi semua pihak terkait.

“Menyusui dan memerah ASI untuk bayi mungkin terasa melelahkan, dan dapat dimengerti bila ibu ingin mencari cara termudah untuk memastikan bayi tetap memperoleh ASI. Menyusui langsung dari payudara ibu sangat direkomendasikan agar dapat terjalin kontak erat antara ibu dan bayi, menumbuhkan rasa aman dan meningkatkan ikatan orangtua-anak. Menyusui bukan sekadar memberikan ASI,” ingat Dr Naomi.

Baca juga: MUI Ajak Umat Untuk Saling Toleransi Rayakan Hari Besar Keagamaan