BMKG juga mengimbau masyarakat untuk menghindari bangunan yang retak atau rusak diakibatkan oleh gempa.
“Kepada masyarakat yang rumahnya mengalami kerusakan, rusak sebagian, atau miring akibat terdampak gempa maka diimbau tidak menempatinya untuk sementara waktu dan diimbau tinggal di tempat yang lebih aman, kokoh dan stabil,” katanya.
Baca juga: Tabrak Lari di Pal 20 Banjarbaru: 3 Motor Rusak Parah, 4 Orang Terluka
Dwikorita juga meminta warga untuk memeriksa dan memastikan bangunan tempat tinggal, apakah cukup tahan gempa atau tidak. “Apakah ada kerusakan yang dapat membahayakan kestabilan bangunan. Jadi periksa sebelum kembali ke dalam rumah,” imbuhnya.
Sementara itu, Kepala Pusat Gempa Nasional, Daryono menyatakan, gempa tektonik berkekuatan magnitudo 6,2 yang mengguncang Kabupaten Garut dan sekitarnya adalah gempa utama.
Hasil analisis BMKG, gempa yang terjadi merupakan jenis gempa bumi menengah akibat adanya aktivitas deformasi batuan dalam lempeng Indo-Australia yang tersubduksi di bawah lempeng Eurasia di selatan Jabar atau populer disebut sebagai gempa dalam lempeng atau intra-slab earthquake.
Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan naik. Episenter gempa bumi terletak pada koordinat 8,39° lintang selatan, 107,11° bujur timur, atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 156 km arah barat daya Garut, Jawa Barat pada kedalaman 70 km.







