Malaysia Kutuk Keras Serangan Israel ke Warga Gaza yang Sedang Antre Bantuan Makanan dari Negeri Jiran
Ukuran Huruf:
WARTABANJAR.COM, GAZA-Delapan warga Palestina tewas dan 20 orang lainnya luka karena serangan Israel ke kamp Al-Nuseirat di Jalur Gaza, Palestina belum lama ini.
Serangan terjadi saat pembagian bantuan makanan yang disumbangkan oleh warga Malaysia untuk warga Gaza yang kelaparan.
Hal ini membuat Pemerintah Malaysia mengutuk keras serangan Israel tersebut.
Kementerian Luar Negeri Malaysia (Wisma Putra) dalam keterangan tertulis diterima di Kuala Lumpur, Sabtu (16/3/2024), menyebutkan bantuan makanan itu merupakan sumbangan dari warga Negeri Jiran Malaysia yang dikumpulkan melalui Dana Rekening Perwalian Kemanusiaan untuk Rakyat Palestina (AAKRP) dan dikelola oleh Ops Ihsan yang merupakan koalisi Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di Negeri Jiran tersebut.
Tindakan kekerasan yang dilakukan Israel terhadap warga sipil tak berdosa jelas merupakan pengabaian terhadap hak asasi manusia dan hukum kemanusiaan internasional.
Serangan terhadap rakyat Palestina tersebut juga merupakan pelanggaran besar terhadap hak dasar mereka untuk hidup damai, aman dan tenteram, kata Wisma Putra, menegaskan.
Mereka yang berada di kamp tersebut adalah warga Palestina yang tidak bersalah dan bukan merupakan ancaman bagi rezim Israel, namun hanya menjalankan tanggung jawab kemanusiaan terhadap sesama warga Palestina.
Untuk menjamin keselamatan rakyat Palestina, komunitas internasional didesak untuk melakukan intervensi segera dan tegas, dan meminta pertanggungjawaban rezim Israel atas ketidakpedulian mereka terhadap kehidupan manusia.
Keadilan harus ditegakkan dan diambil langkah-langkah untuk mencegah kejadian serupa terulang kembali.
Keterangan itu juga mengatakan solidaritas dan dukungan terhadap rakyat Palestina harus diperluas untuk memastikan upaya mereka untuk mendapatkan keadilan, perdamaian dan hak-hak mereka dapat terwujud.
Malaysia berpegang teguh pada prinsip bahwa rakyat Palestina berhak atas negara merdeka dan berdaulat, berdasarkan perbatasan sebelum tahun 1967, dengan Baitulmaqdis Timur sebagai ibu kota negara. (berbagai sumber)
Editor: Yayu