Tragedi di lokasi syuting “Rust” membuat lembaga perfileman di Hollywood menambah pengawasan tambahan terhadap keselamatan di lokasi syuting, fokus utamanya adalah para kru film.
Pada Oktober 2021 di lokasi syuting film barat, Alex Baldwin melepaskan peluru yang seharusnya kosong saat beradegan di film “Rust”. Jika terbukti bersalah, aktor berusia 65 tahun itu bisa menjalani hukuman hingga 18 bulan penjara.
Insiden itu terjadi ketika para kru film “Rust” berjalan keluar dari lokasi syuting. Mereka memprotes apa yang mereka lihat sebagai masalah keamanan. Anggota kru kamera menunjuk pada pengamanan senjata properti film dan kurangnya penginapan di dekatnya. Sementara anggota kru yang tersisa masih berada di lokasi syuting siang itu.
Tepat setelah makan siang, Baldwin sedang berlatih adegan dan Hutchins sedang mengarahkan kameranya close-up ke arah Baldwin yang berperan sebagai penjahat Harland Rust. Pelan-pelan Baldwin menarik revolver Colt 45 dari sarung di bahunya dan mengarahkan revolver ke Hutchins agak ke bawah.
Sebelummnya, dirinya telah diberitahu bahwa pistol itu “dingin,” yang berarti tidak ada peluru tajam di dalamnya. Tapi ternyata pistol itu berisi lima peluru kosong dan satu peluru asli.
Akibatnya, Hutchins sang sinematografer yang berdiri dua hingga tiga kaki langsung terjungkal ketika senjata Baldwin menyalak Peluru timah mengenai dadanya secara fatal termasuk melukai sutradara Joel Souza yang kini sudah pulih lukanya.
Sebulan setelah kecelakaan itu, Baldwin mengatakan kepada ABC News jika tidak menarik pelatuknya.
“Saya tidak menarik pelatuknya. … Saya tidak akan pernah menodongkan pistol ke siapa pun dan menarik pelatuknya ke arah mereka.”
Tim pembela Baldwin menyatakan bahwa senjata penyangga aktor tersebut rusak dan mungkin tidak berfungsi hingga menyebabkan senjata tersebut menyalak sendiri. Namun, para ahli balistik meragukan klaim Baldwin itu selama persidangan.
Pakar forensik FBI, Bryce Ziegler yang bersaksi dalam persidangan mengatakan senjata itu masih berfungsi, beberapa bulan setelah penembakan. Dia melakukan serangkaian pengujian yang ketat, termasuk memukul senjata penyangga Baldwin beberapa kali dengan “palu kulit mentah” untuk menentukan apakah membenturkan atau mendorong senjata tersebut akan mengakibatkan pelepasan senjata. (Sidik Purwoko)
Editor: Sidik Purwoko







