Kupas Buku Perlawanan Warga Pesisir, Kisahkan Perjuangan Nelayan Desa Tabanio

Pathurrahman juga menyampaikan, untuk proses pembuatan buku memakan waktu kurang lebih selama tiga bulan.

“Itu setelah data hasil riset, referesnsi, dan juga studi kasus yang relevan dengan gerakan dibangun oleh masyarakat pedesaan,” ucap Pathurrahman.

Sementara itu, Ketua BPD Tabanio, M Iqbal menuturkan, dalam permasalah tersebut, para masyarakat itu sempat mengalami kesusahan dalam mendapatkan solar bersubsidi.

Hal tersebut, berdampat terhadap penghasilan para masyarakat Desa Tabanio yang mayoritas sebagai nelayan menjadi menurun.

“Sebenarnya masyarakat itu cuma ingin minta tambah stok solar kepada SPBUN disana. Memang ada dapat solar, hanya saja masih kurang bagi para nelayan,” tutur Iqbal.

“Kurangnya bukan karena pemakaian yang tinggi, namun karena stok yang seharusaya diberikan atau dijatahkan untuk masyarakat Desa Tabanio, tapi juga dibagikan kepada masyarakat desa lain. Sehingga membuat masyarakat harus membeli solar dieceran dengan harga yang lebih tinggi,” sambungnya.

Sebelumnya, beber Iqbal, pihaknya sudah beberapa kali melaporkan hal tersebut ke beberapa pihak terkait, seperti dinas terkait, bupati, dan juga dprd setempat hingga akhirnya meraih kesepakatan.

“Butuh waktu kurang lebih 1 tahun, kita bersama masyarakat memperjuangkan hal tersebut. Bahkan kita juga ada berkonsultasi dengan pihak kepolisian, namun tidak bisa ditindaklanjuti, terkecuali tertangkap tangan melakukan penyelewengan,” beber Iqbal.

Sebagai narasumber, Bierhasani R Wilady mengatakan, dilhat baik dari segi akademis maupun segi realita, buku ini merupakan suatu modal bagi masyarakat untuk melalukan gerakan melawan ketidakadilan.

Terlebih lagi menyangkut masalah subsidi, yang mana hal ini merupakan hal yang seksi untuk diselewengkan.

“Hal seperti ini sudah lumrah terjadi dibanyak kasus, kalau yang namanya subsidi ini rentam terjadi penyelewengan. Tinggal bagaimana kawan-kawan yang menerima subsidi ini saja lagi, mau berteriak atau melawan tidaknya lagi,” kata Bierhasani.

“Dalam buku inilah menjawab protes ketidakadilan tersebut, dan juga sebagai modal dan contoh bagi gerakan yang lainnya,” pungkasnya. (Qyu)

Editor Restu