Perubahan itu dinilai akan menandai titik balik utama dalam kebijakan Covid-19 Jepang menuju normalisasi kegiatan sosial dan ekonomi.
Namun di sisi lain, rencana relaksasi diambil saat Jepang masih menghadapi infeksi yang meluas dengan rekor tingkat kematian yang dianggap sebagai gelombang kedelapan wabah sejak pandemi dimulai tiga tahun lalu.
Menurut Kementerian Kesehatan Jepang, kematian harian mencapai rekor tertinggi yakni 503 kasus pada Sabtu pekan lalu.
Para ahli mengatakan peningkatan terbaru dapat dikaitkan dengan memburuknya penyakit kronis atau komorbid pada pasien lansia.
Menteri Kesehatan Jepang, Katsunobu Kato menyatakan salah satu tujuan rencana penurunan status Covid-19 ini adalah menciptakan tatanan baru, agar penyakit ini dapat dilayani di faskes biasa.
Dengan mengubah klasifikasinya, ujar Kato, tidak berarti virus corona hilang.
Pihaknya masih membutuhkan semua orang untuk secara sukarela menggunakan masker dan tindakan pencegahan.
“Pemakaian masker di luar ruangan sudah tak lagi diwajibkan di Jepang, pun dengan penggunaan masker di dalam ruangan yang akan direlaksasi seiring dengan pemberlakuan aturan baru,” katanya. (berbagai sumber)
Editor: Yayu






