“Karena kan kebanyakan yang muda-muda suka makanan pedas-pedas jadi coba cari peluang di situ,” ucapnya.
Adapun daftar menu yang dijual oleh Zati ini adalah: ceker pedas, sayap pedas, kepala ayam pedas, pentol pedas, dan paha bawah pedas.
Keuntungan yang diperoleh Zati selama berjualan makanan pedas cukup memuaskan.
“Alhamdulillah keuntungannya berkali lipat, tapi tergantung harga bahan bakunya juga di pasar bagaimana, karena kan bikin sendiri dari nol dalam artian tidak menjual punya orang.”
Cara berujualan Zati cukup unik. Ia berjualan dengan menggunakan sistem Pre-Order (PO), Zati membuka pesanan tiga hingga empat kali setiap minggu.
“Dalam 3 atau 4 kali buka PO selama seminggu, laba kotornya bisa sampai Rp 400 Ribu,” tuturnya.
Meski berjualan, Zati tetap memprioritaskan kuliah terbukti jika memasuki musim ujian ia akan istirahat sejenak dari kesibukannya, juga ketika hari-hari biasa ia harus bisa memanajemen waktu dengan baik supaya tidak mengganggu perkuliahan.
“Kalau hari libur waktunya membuat bumbu-bumbu untuk stok selama seminggu, dan kalau besok ready, berarti hari ini harus menyiapkan bahan dan memasak, besok paginya baru di packing.”
Banyaknya makanan-makanan yang viral di sosial media, Zati mengungkapkan tidak terlalu mengikuti tren makanan jaman sekarang.
“Saya enggak mengikuti tren, saya tetap pada ciri khas saya yaitu makanan pedas, mungkin nanti kedepannya akan belajar lebih dalam di dunia pemasaran supaya produk saya tetap ramai pembeli.”
Sudah mendapatkan dukungan dari orang tua untuk berjualan, Zati mengaku memiliki harapan untuk masa depannya.
“Impian saya kedepannya mau jadi pengusaha yang punya frozen home made sendiri,” pungkasnya. (Ina)
Editor Restu







