WARTABANJAR.COM, SURABAYA – Pemodelan GPS mengonfirmasi bahwa telah terjadi inflasi di satu titik yang jaraknya lebih dari 10 km dari puncak pada permukaan kawah G. Raung periode Juni-Juli 2022 yang dapat disimpulkan bahwa terjadi migrasi massa pada kedalaman (2900 m di bawah puncak) yang menyebabkan perubahan dimensi 1,7 juta m3.
Dikutip dari laman PVMBG, secara visual warna asap yang muncul umumnya putih tipis, menunjukkan bahwa hembusan asap tidak membawa material abu.
“Namun pada tanggal 27 Juli 2022 Pukul 17.19 WIB terekam Gempa letusan yang menunjukkan terjadinya peningkatan tekanan secara tiba-tiba pada permukaan yang dangkal,” tulis situs resmi di bawah kementerian ESDM ini.
Disebutkan, peningkatan ini terjadi setelah adanya peningkatan gempa vulkanik dangkal, Gempa hembusan dan gempa tektonik jauh.
Hal ini menunjukkan bahwa telah terjadi pergerakan pusat tekanan menuju permukaan yang selanjutnya menghasilkan letusan eksplosif.
Dengan masih terekamnya Gempa Tremor Menerus maka pergerakan fluida ke permukaan diperkirakan masih terjadi meskipun dalam tingkat yang rendah.
Potensi ancaman bahaya saat ini berupa lontaran material batuan pijar, namun sebarannya masih terbatas di dalam kawah, sedangkan material berukuran abu dapat tersebar lebih jauh tergantung arah dan kecepatan angin.
Berdasarkan hasil pemantauan dan analisis kegempaan, serta belum stabilnya kondisi kawah Gunung Raung maka terhitung 29 Juli 2022, pukul 08:00 WIB, tingkat aktivitas G. Raung dinaikkan dari Level I (Normal) menjadi Level II (Waspada).
Pemantauan secara intensif terus dilakukan untuk mengevaluasi aktivitas G. Raung dan dikoordinasikan dengan pemerintah daerah setempat serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah.
Status kegiatan G. Raung akan dinaikan/diturunkan jika terjadi peningkatan/penurunan aktivitas.
Sehubungan dengan tingkat aktivitas G. Raung Waspada (Level II), maka masyarakat dan pengunjung/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati pusat erupsi di kawah puncak dengan radius 3 km.







