Kisah Wakaf Habib Bugak Asyi 200 Tahun Lalu di Makkah Sampai Kini Dinikmati Jemaah Haji Aceh, Begini Bentuknya

WARTABANJAR.COM, MAKKAH – Tak disangka, meski sudah berusia dua abad wakaf Habib Bugak Asyi di Makkah hingga kini terus mengalirkan barakahnya hingga hari ini, ke para jemaah dari Aceh yang tahun ini berangkat haji.

Bagi muslim, wakaf merupakan salah satu bentuk ibadah berupa amal perbuatan yang dinilai paling membawa banyak maslahat baik bagi mereka yang melakukan wakaf atau pihak yang nantinya mendapatkan manfaat dari berbagai bentuk wakaf yang dilakukan.

Di antara berbagai negara dengan mayoritas penduduk beragama muslim, Indonesia menjadi salah satu negara yang belakangan gencar menjalankan program wakaf nasional dengan tujuan mensejahterakan masyarakat lewat berbagai program ekonomi, sosial, dan budaya yang pelaksanaannya dilakukan dengan memanfaatkan dana wakaf.

Baca juga:

Menparkeraf Tawarkan Solusi Atasi Harga Tiket Pesawat yang Makin Mahal

Bicara lebih jauh soal wakaf, ada satu sosok yang dikenal berjasa lewat wakaf yang dilakukan di tanah suci Makkah untuk masyarakat Aceh sejak zaman dahulu, yang manfaatnya bahkan masih terus mengalir dan terasa sampai saat ini, ialah Habib Bugak Asyi.

Habib Abdurrahman bin Alwi Al-Habsyi, yang juga memiliki beberapa nama julukan lain yang muncul dan berhubungan dengan wakaf yang dilakukan, di antaranya Habib Bugak Aceh, di mana nama Bugak dipakai Habib Abdurrahman saat berwakaf di Makkah dengan tidak menggunakan nama aslinya, nama Bugak didapatkan sebagai julukan khusus yang umum diberikan kepada para tokoh Agama di Aceh, Bugak sendiri merujuk pada nama jalan yang saat ini berada di Kabupaten Birueun, Aceh.

Adapun nama lain yang paling terkenal dan dimiliki oleh Habib Abdurrahman ialah Habib Bugak Asyi, nama Asyi merujuk pada wakaf berupa tanah dan rumah di Makkah yang awalnya dijadikan tempat singgah bagi Jemaah asal Aceh yang melakukan ibadah Haji, tanah dan rumah tersebut pun dinamakan Baitul Asyi yang dalam bahasa Indonesia berarti Rumah Aceh.

Habib Bugak Asyi yang sebenarnya berasal dari Makkah datang ke Indonesia tepatnya ke Aceh sekitar tahun 1760 pada masa pemerintahan Sultan Alauddin Mahmud Syah I, menetap di Aceh dan menjadi orang kepercayaan Sultan Aceh pada masa itu, Habib Bugak Asyi kemudian kembali ke tanah kelahirannya di Makkah pada tahun 1800-an.

Mengutip situs resmi Badan Wakaf Indonesia, Rabu (19/5/2021), Habib Bugak Asyi kembali ke Makkah tepatnya di tahun 1809 sebagai tokoh yang menghimpun dana dari masyarakat selama berada di Aceh, ditambah dengan dana miliknya sendiri, Habib Bugak Asyi kemudian membeli tanah wakaf yang persis berada di sekitar Masjidil Haram dan kemudian langsung dibangun rumah singgah yang diberi nama Baitul Asyi.

Tentunya selain diperuntukkan bagi Jemaah haji asal Aceh yang berasal dari Makkah, Baitul Asyi juga nyatanya digunakan untuk masyarakat Aceh dan para santri atau pelajar asal Asia Tenggara yang menetap di Makkah untuk menuntut ilmu dan bekerja.

Pada situs resmi pemerintah Aceh yaitu acehprov.go.id, bahkan dijelaskan secara detail ikrar wakaf yang dilakukan Habib Bugak Asyi di depan Hakim Mahkamah Syar’iyah Makkah.

“Rumah tersebut (Baitul Asyi) dijadikan tempat tinggal jamaah haji asal Aceh yang datang ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji dan juga tempat tinggal orang asal Aceh yang menetap di Makkah. Sekiranya karena sesuatu sebab tidak ada lagi orang Aceh yang datang ke Makkah untuk haji, maka rumah wakaf ini digunakan untuk tempat tinggal para pelajar (santri atau mahasiswa) Jawi.” demikian ikrar wakaf yang diucapkan oleh Habib Bugak Asyi, adapun Jawi adalah istilah yang saat itu digunakan untuk menyebut pelajar atau mahasiswa asal wilayah Asia Tenggara yang belajar di Makkah.