“Saya bilang kita akan berupaya untuk bisa mengalokasikan, tentu saja harus melalui pengaturan kargo. Saya juga menyampaikan bahwa Indonesia sebenarnya memiliki potensi besar untuk produksi yang lebih besar. Tapi untuk itu memang diperlukan kerja sama dengan pemilik teknologi dan juga pemilik modal,” ujar Arifin.
“Tapi karena situasi saat ini perhatiannya menjadi terpecah. Sebaiknya memang ke depannya kita bisa berupaya untuk menarik kembali mereka ke Indonesia. Supaya bisa mengeksploitasi sumber oil and gas kita semaksimal mungkin,” imbuhnya.
Dikutip dari Swissinfo, Swiss memang salah satu negara yang paling bergantung terhadap pasokan gas impor. Sejauh ini, sanksi yang diberikan oleh Uni Eropa kepada Rusia cukup berdampak terhadap Swiss, meski negara ini bukan anggota dari Uni Eropa.
Menteri Ekonomi Swiss Guy Parmelin mengatakan, situasi ini akan sulit bagi Swiss.
“Swiss benar-benar bergantung pada impor minyak dan gas,” ujar Parmelin.
Gas berkontribusi 15% terhadap total konsumsi energi di Swiss, yang mana kebanyakan digunakan untuk memasak dan penghangat. Setengah pasokannya berasal dari Rusia. (*)
Editoe: Erna Djedo







