Dia menuturkan hasil analisa Telkomsel hingga 2024, perusahaan akan membutuhkan spektrum lebih 60 mghz per site di hampir 60 persen site yang dimiliki Telkomsel.
Dengan demikian, sambungnya, mau tidak mau pilihannya adalah Telkomsel harus menghentikan layanan 3G dan menggunakan spektrum yang digunakan 3G sekarang untuk digunakan oleh layanan 4G maupun 5G.
“Namun penghentian 3G oleh Telkomsel akan dilakukan bertahap. Targetnya bisa selesai paling lambat akhir tahun nanti. Jangan khawatir, Telkomsel mengedepankan kepuasan pelanggan, sehingga proses penghentian layanan 3G migrasi ke 4G dan 5G tidak akan memberikan dampak seluruh pelanggan Telkomsel,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Bidang Infrastruktur Telematika Nasional (Mastel) Sigit Puspito Wigati Jarot menilai Indonesia memang harus meningkatkan teknologi hingga regulasi agar tercapai digitalisasi yang optimal.
Pasalnya, ujar Sigit, dengan adanya upgrading teknologi ini, maka kualitas dan pemerataan infrastruktur menjadi lebih cepat.
“Bila pemadaman 3G ini meningkatkan kesehatan industri dan efisiensi jaringan serta spektrum, maka akan berdampak positif pada transformasi digital. Spektrum juga tidak boleh ada yang sia-sia dengan adanya 2G atau 3G yang efisiensinya relatif rendah ini mengganggu sebenarnya efisiensi jaringan,” ucapnya. (*)
Editor: Erna Djedi







