“Di tempat saya menjual minyak goreng dengan harga Rp 14 ribu per liter dengan merk tawon. Sedangkan merk Kelapa Mas dan Fitri dijual dengan harga 13 ribu rupiah tapi isinya cuma 900 mili liter,” kata Muhammad Nor.
“Di sini kami menjual minyak goreng merk Alif dan Tropical dengan harga Rp 14 ribu. Ada pula merk Kelapa Mas dan Fitri, tetapi hari ini stok merk Tropical dan Fitri lagi kosong. Merk Fitri yang ada hari ini isi 450 mililiter,” kata Saudi
Selain itu, suara senada juga diungkapkan oleh salah seorang pedagang yang menjual berbagai macam merk minyak goreng yaitu Hilman Sa’dudin.
Ia ungkapkan bahwa minyak goreng yang sudah di refraksi dan ganti rugi harga lama oleh pemerintah, dijual dengan harga sesuai peraturan.
Walaupun harga sudah normal, ia sampaikan pula bahwa masih ada beberapa masyarakat yang mau membeli minyak goreng secara berlebihan, oleh karena itu ia berlakukan batas jumlah maksimal pembelian di tokonya.
“Dari semua merk minyak goreng yang kami jual, Alhamdulillah sembilan puluh persen sudah di refraksi sekaligus ganti rugi harga lama dari pemerintah. Dengan adanya ganti rugi harga lama ini, sejak saat itu kami menjual dengan harga 14 ribu per liter. Kondisi saat ini masih ada yang mau membeli minyak goreng secara berlebihan untuk menimbun, jadi kami batasi setiap pembelian maksimal dua liter perhari,” ungkap Hilman.
Pemantauan ketersediaan stok dan harga minyak goreng tidak hanya dilakukan di pasar tradisional, Diskopdag Tala juga melakukan pemantauan di toko ritel yang ada di Pelaihari kota.
Upaya untuk memastikan minyak goreng satu harga dengan ketersediaan stok yang cukup akan terus dilakukan oleh Diskopdag Tala sampai kebijakan satu harga minyak goreng dapat merata. (edj)
Editor: Erna Djedi







