Capaian positif lain, lanjutnya, adalah tidak ada provinsi yang melaporkan Bed Occupancy Ratio (BOR) lebih 80 persen.
Sedangkan untuk BOR ICU lebih 80 persen dilaporkan di Sumatera Utara.
Adapun penurunan angka kematian sebesar kurang lebih 8 persen dibandingkan pekan sebelumnya.
Sesuai dengan rekomendasi WHO bahwa angka kematian dinilai per 7 hari dikarenakan akan memberikan gambaran yang lebih tepat, mengingat ada kematian yang belum dilaporkan secara real time sehingga masih terlihat fluktuatif per hari secara absolut.
Selain itu yang paling penting adalah menilai tren dari angka kematian tersebut per pekannya.
“Kami berharap hal ini menjadi tanda positif semakin menurunnya angka kematian di minggu-minggu ke depan,” katanya.
Dengan penurunan BOR di rumah sakit-rumah sakit, dr Nadia juga berharap seluruh pasien COVID-19 yang bergejala berat dan membutuhkan perawatan rumah sakit bisa mendapatkan perawatan yang selayaknya sesuai standar sehingga mampu menurunkan angka kematian.
“Hal ini juga bisa menjadi bukti keberhasilan vaksinasi kita bahwa vaksin yang kita gunakan mampu untuk mencegah kasus parah dan juga kematian akibat COVID-19,” sambungnya.
Contoh keberhasilan lain adalah DKI Jakarta mampu menekan angka penambahan kasus dan angka kematian COVID-19 di level lebih rendah dibandingkan periode awal dilaksanakannya PPKM.
Menurutnya, berbagai pembatasan kegiatan masyarakat serta penguatan prokes memainkan peran di provinsi DKI Jakarta dalam menurunkan laju penularan penyakit dan juga sekaligus meningkatkan kapasitas respon penanggulangan pandeminya.
Dengan upaya yang masif untuk penanggulangan COVID-19 melalui peningkatan testing, penguatan pelacakan kontak erat, kegiatan isolasi/karantina dan penguatan kepatuhan terhadap protokol kesehatan, mampu untuk menekan dan tentu meringankan sistem kesehatan yang ada di provinsi DKI Jakarta. (ant)
Editor: Yayu Fathilal







