Waspada Fenomena Aphelion Terjadi di Kalsel Selama Juli-Agustus 2021, Warga Diharapkan Tingkatkan Imunitas

“Angin monsun Australia yang bertiup menuju wilayah Indonesia melewati perairan Samudera Indonesia yang memiliki suhu permukaan laut juga relatif lebih dingin, sehingga mengakibatkan suhu di beberapa wilayah di Indonesia terutama bagian selatan khatulistiwa (Pulau Jawa, Bali dan Nusa Tenggara) terasa juga lebih dingin,” ujarnya.

Selain dampak angin dari Australia, berkurangnya awan dan hujan di Pulau jawa hingga Nusa Tenggara turut berpengaruh ke suhu yang dingin di malam hari.

Sebab, tidak adanya uap air dan air menyebabkan energi radiasi yang dilepaskan oleh bumi pada malam hari tidak tersimpan di atmosfer.

Tak hanya itu, langit yang cenderung bersih awannya (clear sky) akan menyebabkan panas radiasi balik gelombang panjang ini langsung dilepas ke atmosfer luar.

“Sehingga kemudian membuat udara dekat permukaan terasa lebih dingin terutama pada malam hingga pagi hari. Hal ini yang kemudian membuat udara terasa lebih dingin terutama pada malam hari,” tuturnya.

Sementara itu di Kalimantan Selatan juga tak luput dari fenomena Aphelion tersebut sejak hari ini, Kamis (15/7/2021) pukul 05.27 Wita.

Menanggapi ini, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tanah Bumbu, Eryanto Rais mengimbau warga agar lebih meningkatkan daya tahan atau imunitas tubuh.

Katanya, ini karena jarak antara bumi dan matahari lebih jauh, yaitu biasanya perjalanan 5 menit cahaya atau 90.000.000 kilometer, jika ada fenomena ini jadi 152.000.000 juta kilometer atau sekitar 66 persen lebih jauh.

Walau secara kasat mata fenomena ini tak tampak, namun efeknya bisa dirasakan yaitu badan jadi lebih mudah sakit seperti meriang, batuk, flu, dan sebagainya.

“Fenomena ini biasanya akan terjadi hingga Agustus. Sebaiknya perbanyak mengonsumsi vitamin dan berdoa agar tak mudah sakit,” sebutnya. (brs/berbagai sumber)

Editor: Yayu Fathilal