Bahkan jika kita cermati lebih jauh, para Tuan Guru itu justru memberikan pendidikan yang sangat fundamental, yakni menyangkut nilai-nilai mulia terkait makna dan tujuan hidup. Mereka memang tidak mengajar sains dan teknologi, tetapi membimbing manusia tentang untuk apa dia hidup, bagaimana menyikapi masalah-masalah dalam hidup dan ke mana kelak akan kembali setelah mati. Inilah yang sering dikatakan Guru Zuhdi: ilmu itu berfungsi untuk menyikapi masalah-masalah hidup dengan bijak. Inilah ilmu yang menjadi pelita dalam kehidupan.
Kunci pengajian adalah keikhlasan. Orang-orang datang ke pengajian bukan karena takut tidak mengisi daftar hadir atau tidak dapat menjawab pertanyaan dalam ujian. Orang-orang datang ke pengajian semata karena ingin mendapatkan ilmu sebagai petunjuk hidup.
Bukankah ini sangat liberal, tidak ada paksaan sama sekali? Alqur’an sendiri menegaskan, tidak ada paksaan dalam agama, sebab perilaku keagamaan yang dipaksakan akan melahirkan kemunafikan.
Secara spiritual, keikhlasan tidak bisa bertepuk sebelah tangan. Seorang Guru yang mengajar dengan tulus ikhlas, akan mengundang murid-murid untuk datang dengan sukarela dan ikhlas. Ketulusan ini berakar pada cinta, yakni mengagumi keindahan ilmu dan amal, ucapan dan perbuatan yang baik dan benar. Karena berbasis cinta, hubungan Tuan Guru dan murid-muridnya amatlah kuat.
Kepergian Guru Zuhdi tepat di Hari Pendidikan kiranya patut menjadi renungan tentang apa artinya menjadi seorang guru. Sebagai salah seorang guru di perguruan tinggi, saya pun bertanya-tanya dalam hati, apakah saya bisa menjadi guru yang ikhlas dan dicintai murid-murid saya ataukah tidak? Jangan-jangan, kritik orang luar ada benarnya.
Katanya, di Indonesia itu, jumlah guru di daftar gaji lebih banyak daripada jumlah guru di dalam kelas. Banyak orang menjadi guru bukan karena ingin menjadi pendidik, melainkan sekadar ingin mendapatkan pekerjaan. Jika memang demikian, maka sudah seharusnya kita benar-benar merasa malu karena sebenarnya kita tidak layak dipanggil “Guru”.
Al-Fatihah untuk Guru Zuhdi dan guru-guru kita yang telah wafat.
Demikian tulis Rektor Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin itu. (has)
Editor : Hasby













