WARTABANJAR.COM, BANJARMASIN – Setiap 2 Mei diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari Banjarmasin, Prof Mujiburrahman dalam media sosial Facebook miliknya menuliskan Guru Zuhdi dan Hari Pendidikan.
Pada tanggal 9 Ramadhan atau 2 Mei 2020 lalu kaum muslimin masyarakat Kalimantan Selatan umumnya kota Banjarmasin khususnya, diingatkan kembali tentang sosok Seorang Ulama Kharismatik kota Banjarmasin yaitu Alm KH Ahmad Zuhdiannoor atau sapaan akrabnya Guru Zuhdi.
Berikut tulisan Prof Mujiburrahman :
Entah kebetulan atau bukan, Tuan Guru Haji Zuhdiannoor wafat pada 2 Mei 2020 lalu, tepat di Hari Pendidikan Nasional. Orang Banjar memang menyebut ulama tradisional dengan panggilan “Guru”, sebuah kata Sanskerta yang tidak hanya menunjukkan status sosial tetapi juga otoritas spiritual.
Mirip dengan orang Nusa Tenggara Barat, untuk panggilan kehormatan bagi seorang ulama, orang Banjar menyebutnya “Tuan Guru Haji”, lalu nama beliau. Namun dalam penuturan akrab sehari-hari, biasanya cukup dipanggil “Guru” ditambah penggalan namanya, misalnya “Guru Zuhdi”.
Jika masyarakat sudah memberi gelar kehormatan “Guru” pada seseorang, maka hal ini menunjukkan otoritasnya di bidang keagamaan telah diterima dan diakui. Memang tidak ada lembaga resmi yang memberikan sertifikat atau sejenisnya.
Ini berjalan secara alamiah saja. Namun uniknya, hanya Guru yang “benar-benar Guru” yang mendapatkan penerimaan luas di masyarakat. Yang saya maksud dengan “benar-benar” di sini adalah kompetensi keilmuannya, keteladanannya dan kesungguhannya dalam mendidik masyarakat.
Tidak ada Tuan Guru yang pengajiannya diikuti oleh puluhan ribu jemaah kecuali setelah dia “membuktikan” kelayakannya di masyarakat selama bertahun-tahun, mulai pengajian kecil yang nyaris tanpa jemaah hingga dihadiri ribuan orang.
Tuan Guru sejati bukanlah produk karbitan yang serba instan. Ini sebabnya, kepergian seorang Tuan Guru sekelas Guru Zuhdi tidak mudah digantikan. Perlu waktu bagi tunas-tunas baru untuk tumbuh dan berkembang hingga mekar.
Kepergian Guru Zuhdi di Hari Pendidikan seolah mengingatkan kita bahwa para pendidik itu bukan hanya guru-guru di sekolah dan perguruan tinggi. Para ulama juga adalah para pendidik.







