Oleh : Ustadz Muhammad Rijal Fathoni S.PD. I
WARTABANJAR.COM, BANJARMASIN – Pada malam Sabtu dan Ahad selepas salat Isya setiap satu bulan dua kali pengajian rutin di Majelis Bustanul Muhibbin Handil bakti menjadi lebih padat daripada biasanya. Banyak orang berpakaian putih-putih baik laki-laki ataupun perempuan menuju satu tempat, yaitu Majelis Ta’lim yang diasuh oleh salah seorang Ulama Kharismatik paling berpengaruh di Kalimantan Selatan, yaitu Tuan Guru Haji Muhammad Bakhiet.
Guru Bakhiet menyiarkan tarekat Alawiyah lewat wirid yang dibaca dalam setiap pengajiannya.
Tentang Tarekat Alawiyah, Tuan Guru Haji Muhammad Bakhiet mengucapkan bahwa Thariqat Alawiyah itu zhahirnya Ghazaliyah, batinnya Syadziliyah. Itulah sebabnya dalam banyak pengajiannya menggunakan kitab-kitab karangan Imam Ghazali seperti Bidayah al-Hidayah, Minhaj al-’Abidin, dan Ihya Ulumiddin; juga kitab Al-Hikam maupun Tajul ‘Arus li Tahdzib an-Nufus karangan Imam Ibnu Athaillah as-Sakandari.
Menariknya, kitab Al-Hikam yang dianggap sulit oleh sebagian orang ini disampaikan dengan bahasa yang mudah dicerna dan dipahami oleh masyarakat. Guru Bakhiet mengupas pasal demi pasal dengan durasi 30 menit setiap pertemuan, hingga tamat. Kata-kata Guru Bakhiet tersusun rapi dan mudah dimengerti, dakwahnya disukai banyak kalangan.
Inilah di antara sebab mengapa banyak orang berbondong-bondong datang ke majelis beliau, mulai dari yang dekat sampai yang jauh dari Aceh, kendati kediaman beliau berjarak ratusan km dari ibukota Kalsel. Di samping itu banyak pula yang menitipkan anaknya ke pesantren beliau di Barabai, baik dari kalangan orang awam maupun habaib.
Para ulama dan habaib dari berbagai daerah juga banyak yang bertamu ke beliau seperti dari Kalteng, Kaltim, Kalbar, Jawa, Sumatera, Makkah, dan lainnya. Habib Syech bin Abdul Qadir Assegaff pernah berujar, “sejak mendengarkan ceramah Guru Bakhiet di Aswaja TV, saya sangat ingin bertemu langsung dengan beliau. Alhamdulillah, akhirnya saya bisa bertemu Guru Bakhiet”.
Ada artikel yang ditulis oleh teman saya sewaktu di Ponpes Darul Hijrah, sekarang Beliau Menjadi Dosen di Universitas kota Semarang nama Beliau Ustadz Hidayatullah.
Saya pernah bertanya mengenai alasan dari Ustadz Hidayatullah Selaku Penulis, memberi judul dari artikel tersebut dan menempatkan Nama Guru kami KH. Muhammad Bakhiet ;







