Mereka beralasan menjadi pekerja badut jalanan tersebut, karena faktor ekonomi untuk mencukupi kebutuhan keluarga akibat dari pada dampak pandemi COVID-19.
Rata-rata pengakuan mereka ada yang ingin mencari kesibukan di luar rumah, karena sekolah tatap muka belum dibuka. Ada juga yang beralasan untuk membantu ekonomi keluarganya yang kurang mampu.
“Berdasarkan keterangan dari pemilik kostum yang mempekerjakan ini, sebagian besar mereka tergolong orang tidak mampu. Jadi alasan pemilik, mereka tidak tega anak-anak tersebut ingin bekerja kepada mereka, maksud pemilik ini mereka ingin membantu,” jelasnya.
Terkait sejumlah badut yang terjaring, pihaknya hanya melakukan tindakan pembinaan, baik terhadap yang mempekerjakan anak-anak tersebut maupun anak-anak yang menjadi badut jalan itu.
“Jadi tindakan kami selama ini sifatnya masih pembinaan, karena sekali dua kali kami panggil untuk membuat pernyataan dan kami juga memberikan ancaman kepada pemilik, apabila mengulangi lagi kami bisa melaporkan kepada Tim Satgas Perlindungan Anak,” tegasnya.
Ricky menambahkan, berdasarkan keterangan pemilik kostum badut tersebut, sebagian besar orangtua dari anak-anak yang menjadi badut jalan ini mengetahui anaknya dipekerjakan. Bahkan orangtua anak yang mengantarkan anaknya menjadi badut jalan tersebut. (ant)
Editor: Erna Djedi







