Eropa Benua Pertama di Dunia Lewati Angka 50 Juta Kasus Covid-19


WARTABANJAR.COM – Eropa menjadi benua pertama di seluruh dunia yang melewati 50 juta kasus virus corona pada Senin (19/7/2021).

Menurut penghitungan Reuters, jumlah itu dicapai ketika varian Delta yang lebih menular mendorong rekor lonjakan infeksi baru setiap hari.

Wilayah Eropa mencatat satu juta infeksi baru setiap delapan hari dan telah melaporkan hampir 1,3 juta kematian sejak pandemi dimulai.

Varian Delta, yang secara signifikan lebih menular daripada versi asli Covid-19, telah terdeteksi di sekitar 100 negara dan sekarang menjadi varian dominan di seluruh dunia.

Eropa tetap menjadi salah satu wilayah yang terkena dampak terburuk di seluruh dunia dan telah melaporkan 27% kasus global dan 31% kematian global.

Menurut penghitungan Reuters, butuh 194 hari bagi Eropa untuk beralih dari 25 juta menjadi 50 juta kasus sementara 25 juta kasus pertama dilaporkan dalam 350 hari.

Percepat Uji Vaksin

Sementara itu, para ilmuwan tengah bekerja untuk menemukan tolok ukur (benchmark) bagi efikasi vaksin COVID-19 yang memungkinkan produsen melakukan uji coba pada manusia yang lebih sedikit dan lebih cepat sehingga vaksinnya bisa segera dipakai untuk mengatasi kelangkaan global.

Mereka sedang berusaha menentukan seberapa banyak antibodi COVID-19 yang harus diproduksi oleh sebuah vaksin agar penerimanya terlindung dari penyakit.

Para regulator sudah menggunakan patokan semacam itu –dikenal sebagai korelasi perlindungan (correlate of protection)– untuk mengevaluasi vaksin flu tanpa harus melakukan uji klinis yang lama dan melibatkan banyak orang.

“Anda bisa menggunakan itu untuk memprediksi efikasi dari sebuah vaksin, yang akan menjadi lebih penting saat kita tak mampu melakukan uji coba terkontrol-plasebo” kata Stanley Plotkin, penemu vaksin Rubella dan pakar korelasi perlindungan.

“Informasinya sudah mulai masuk,” katanya. “Pada akhir tahun ini, saya pikir akan ada cukup data untuk meyakinkan setiap orang.”

Sebuah tolok ukur yang bersifat tetap bagi COVID-19 akan memungkinkan produsen melakukan uji coba klinis hanya dengan sekian ribu orang, atau sekitar sepersepuluh ukuran penelitian yang diperlukan untuk mendapatkan izin penggunaan vaksin, kata peneliti dan produsen kepada Reuters.

Penelitian yang melibatkan puluhan ribu sukarelawan itu membandingkan tingkat infeksi COVID-19 pada orang yang menerima suntikan vaksin dengan tingkat infeksi orang yang menerima plasebo.

Uji coba terkontrol secara acak seperti itu mungkin tidak lagi dianggap etis di sejumlah negara, karena peneliti tidak boleh memberi suntikan palsu (plasebo) sementara vaksin yang efektif tersedia secara luas.

Selain itu, banyak vaksin baru sedang dikembangkan oleh perusahaan-perusahaan kecil yang mungkin tak mampu melakukan uji coba massal tanpa bantuan dana dari pemerintah atau mitra berkantong tebal. Dengan sebuah korelasi perlindungan, produsen dapat memeriksa sampel darah dari sejumlah kecil peserta uji coba yang menerima vaksin eksperimental untuk melihat apakah mereka memproduksi antibodi pelindung sesuai patokan.

Patokan semacam itu “sangat diperlukan” untuk membantu mengatasi tantangan yang dihadapi pengembang vaksin dan mempercepat ketersediaannya di pasar, kata Dr. Florian Krammer, ahli virus dari Icahn School of Medicine Rumah Sakit Mount Sinai di New York dalam sebuah artikel di jurnal Nature bulan ini.

Para peneliti Universitas Oxford akhir bulan lalu mengajukan calon korelasi perlindungan berdasarkan antibodi yang ditemukan pada penerima vaksin AstraZeneca. Hasil penelitian mereka menunggu ulasan sejawat oleh ilmuwan lain.

Hasil penelitian yang didukung AS pada vaksin Moderna diharapkan dapat dipublikasikan dalam jurnal kedokteran akhir musim panas ini.

“Kami sedang menyusun laporannya saat ini,” kata Dr. Peter Gilbert, ahli biostatistika dari Pusat Penelitian Kanker Fred Hutchinson.

Sejumlah pakar vaksin mempertanyakan apakah kadar antibodi akan menjadi indikator perlindungan yang cukup kuat. Komponen lain pada sistem kekebalan, seperti sel T dan sel B, dianggap memberikan pertahanan penting melawan COVID-19, tapi lebih sulit untuk diukur.

Pertanyaan itulah yang dicari jawabannya oleh para pakar vaksin terkemuka di Pfizer yang bersama BioNTech membuat salah satu vaksin COVID-19 paling efektif yang sudah diproduksi besar-besaran secara global.

Ada kemungkinan setiap jenis vaksin virus corona akan memerlukan korelasi perlindungannya sendiri, kata sejumlah pakar.

Produsen yang mengembangkan jenis vaksin baru mungkin tidak bisa menggunakan korelasi dari vaksin Moderna yang berbasis mRNA, kata mereka.