WARTABANJAR.COM, PELAIHARI - Pemerintah Kabupaten Tanah Laut (Tala) mengintensifkan pengendalian inflasi dengan memperluas jangkauan pasar murah hingga ke desa sepanjang 2026.

Upaya stabilisasi harga pangan tersebut antara lain diwujudkan melalui kolaborasi antara Dinas Koperasi, Usaha Mikro, dan Perdagangan (Diskumdag) bersama Dinas Perdagangan (Disdag) Provinsi Kalimantan Selatan di eks Terminal Tanah Habang, Kecamatan Pelaihari, Selasa (27/10/2026).

Pasar murah ini digelar untuk menjaga keterjangkauan daya beli masyarakat di tengah potensi fluktuasi harga bahan pokok.

Baca juga: Akhirnya, Banjarmasin Dapat Banpres Karhutla Rp 20 Miliar, Rifqinizamy Minta Rakyat Awasi

Baca juga: Hujan Mulai Turun, Masih Ada 3.392 Hektare Lahan Terbakar di Kalsel, Kalteng dan Kalbar

Kepala Bidang Pengembangan Perdagangan Dalam Negeri (PPDN) Disdag Kalsel Hj Adilla Redha Yanti
mengutarakan pasar murah menjadi instrumen krusial pemerintah untuk meredam tekanan ekonomi warga.

“Pasar murah juga salah satu instrumen untuk mengendalikan inflasi. Kami sangat berupaya memberikan keterjangkauan harga kepada masyarakat melalui kegiatan ini,” ujarnya.

Adilla mengungkapkan Tanah Laut terpilih menjadi satu dari lima daerah di Kalimantan Selatan yang mendapat prioritas pelaksanaan pasar murah pengendalian inflasi dari Kementerian Perdagangan. 

Berbagai komoditas pendorong inflasi disediakan seperti tepung, teh, gula premium, dan minyak goreng Minyakita dengan harga lebih rendah dibanding pasaran.

Khusus Minyakita dua liter, harga yang ditawarkan di pasar murah Rp30.000, lebih murah dari harga pasaran yang mencapai Rp31.400.

Demi mengakomodasi tingginya kebutuhan warga, kuota pembelian Minyakita di Tanah Laut dilonggarkan hingga maksimal empat pouch atau delapan liter per orang.

Sedangkan Kepala Diskumdag Kabupaten Tanah Laut, Hairul Rijal, mengatakan pihaknya mengagendakan sekitar 40 titik pasar murah sepanjang  2026 yang disebar secara merata hingga ke pelosok.

“Jadi bukan hanya di Kota Pelaihari, tetapi juga di kecamatan-kecamatan dan desa-desa. Ini merupakan tugas kami untuk melayani masyarakat Tanah Laut,” ujar Hairul.

Hairul menambahkan, komoditas yang dijual di pasar murah memiliki selisih harga sekitar Rp2.000 hingga Rp4.000 lebih murah dibanding harga pasar.